PEMBELAJARAN
KOOPERATIF SEBAGAI STRATEGI PENGAJARAN DALAM ILMU KIMIA
PENDAHULUAN
Sekitar
tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualitis telah mendominasi
pendidikan di Amerika Serikat. Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan
untuk berkompetisi dan tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Menurut
Johnson dan Johnson (dalam Trianto.2009) dalam belajar kompetitif dan
individualitis, guru menempatkan siswa pada tempat duduk yang terpisah dari
siswa yang lain. Kata-kata “dilarang mencontoh”, “geser tempat dudukmu”, “Saya
ingin agar kamu bekerja sendiri”, dan “jangan perhatikan orang lain, perhatikan
dirimu sendiri” sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualitis. Proses
belajar seperti itu masih terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini.
Menurut
Slavin (dalam Trianto.2009) jika disusun dengan baik, belajar kompetitif dan
individualitis akan efektif dan merupakan cara memotivasi siswa untuk melakukan
yang terbaik. Meskipun demikian, terdapat beberapa kelemahan pada belajar
kompetitif dan individualitis, yaitu (a) kompetisi siswa terkadang tidak sehat.
Sebagai contoh jika seorang siswa menjawab pertanyaan guru, siswa yang lain
berharap agar jawaban yang diberikan salah, (b) siswa berkemampuan rendah akan
kurang termotivasi, (c) siswa berkemampuan rendah akan sulit untuk sukses dan
semakin tertinggal, dan (d) dapat membuat frustasi siswa lainnya. Untuk
menghindari hal-hal tersebut dan agar siswa dapat membantu siswa yang lain
untuk mencapai sukses, maka jalan keluarnya adalah dengan belajar kooperatif.
Kurikulum
pendidikan nasional tahun 2006, menetapkan prinsip pelaksanaan kurikulum
didasarkan pada potensi, karakteristik, perkembangan dan kondisi peserta didik
untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini siswa harus
mendapatkan pelayanan pendidikan memberi kesempatan untuk mengekspresikan
dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan dengan menegakkan pilar belajar
hidup dalam kebersamaan dengan saling berbagi dan saling menghargai.
Pembelajaran secara konstruktif dapat memberikan pengakuan terhadap pandangan
dan pengalaman siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan situasi yang tidak
tentu. Untuk mewujudkan prinsip pelaksanaan kurikulum tersebut di atas,
pembelajaran harus dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi,
multimedia dan multiresource.
Salah satu
strategi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas adalah pembelajaran
kooperatif. Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan melalui riset ilmiah
diberbagai negara di dunia, sehingga sistematikanya dapat diterapkan pada semua
tingkat pendidikan dan di semua mata pelajaran. Strategi pembelajaran
kooperatif telah dikembangkan dalam berbagai tipe variasi, di antaranya adalah Co-operative Pairs, Students Teams
Achievement Division, Teams Games Turnament, Jigsaw, dan
sebagainya. Tipe pembelajaran tersebut memiliki penekanan yang berbeda tetapi
semuanya masih dalam konsep regulardari pembelajaran kooperatif. Misalnya, Co-operative Pairs memiliki
penekanan terhadap pengembangan kemampuan siswa menguji ide dan pemahamannya
sendiri dan menerima umpan balik. Sedangkan Teams
Games Tournament menekankan pada tanggung jawab individu dalam
berkonstribusi terhadap kesuksesan kelompok dalam suasana kompetitif dan
lainnya. Pada makalah iniakan kami paparkan lebih
lanjut hal-hal yang bersangkutan dengan strategi pembelajaran kooperatif.
Untuk memperdalam pengetahuan kita mengenai pembelajaran kooperatif, selanjutnya akan dibahas mengenai pengertian, komponen, prinsip,
karakteristik, tipe, langkah-langkah, kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif lebih dalam lagi. Selain itu akan dibahas juga mengenai penerapan pembelajaran kooperatif dalam ilmu kimia.
Melalui penulisan
makalah ini diharapkan bermanfaat
dalam membantu pelajar
lebih memahami strategi
pembelajaran kooperatif, komponen, prinsip, karakteristik, tipe,
langkah-langkah, kelebihan dan kekurangan
strategi pembelajaran kooperatif serta penerapan strategi
pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran kimia.
Bagi
pendidik, diharapkan makalah ini bermanfaat dalam
menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran sehari-hari
khususnya pembelajaran kimia.
PEMBAHASAN
Pengertian dari
Pembelajaran Kooperatif
Untuk menggunakan pembelajaran
kooperatif secara efektif, akan diperlukan kompetensi umum yang digunakan dalam
kerja kelompok. Secara khusus, Anda harus mempersiapkan secara menyeluruh dan
serius untuk mengajar, memahami bagaimana untuk memenuhi budaya, jenis kelamin,
etnis, bahasa, dan perbedaan lainnya di antara peserta didik, dan dapat
menciptakan lingkungan belajar yang mana peserta didik mengembangkan disiplin
diri dan yang mana pemikiran kritis dan kreatif didorong .
Slavin dan Abrami dan Chambers
menyarankan bahwa belajar melalui kerja kelompok dapat dijelaskan dari sejumlah
perspektif teoritis. Perspektif teoritis tersebut terdiri dari perspektif
motivasi, perspektif kohesi sosial, perspektif perkembangan kognitif, dan
perspektif elaborasi kognitif.
Perspektif
motivasi artinya bahwa penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan
setiap anggota kelompok akan saling membantu. Dengan demikian, keberhasilan
individu pada dasarnya adalah keberhasilan kelompok. Hal semacam ini akan
mendorong setiap anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan
kelompoknya.
Perspektif
sosial artinya bahwa melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam
belajar karena menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan.
Bekerja secara tim dengan mengevaluasi keberhasilan sendiri oleh kelompok,
merupakan iklim yang bagus, yang mana setiap anggota kelompok menginginkan
semuanya memperoleh keberhasilan.
Perspektif
perkembangan kognitif artinya bahwa dengan adanya interaksi antara anggota
kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai
informasi. Elaborasi kognitif, artinya bahwa setiap siswa akan berusaha untuk
memahami dan menimba informasi menambah pengetahuan kognitifnya.
Belajar kooperatif bukanlah sesuatu yang
baru. Guru dan siswa mungkin
pernah menggunakannya atau mengalaminya sebagai contoh saat
bekerja dalam laboratorium. Dalam belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok
yang terdiri dari 4 atau 5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang
diberikan guru (Slavin, 1995; Eggen & Kauchak). Artzt dan Newman (1990:
448) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai
suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan
bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk
keberhasilan kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) secara etimologi
mempunyai arti belajar bersama antara dua orang atau lebih, sedangkan
pembelajaran kooperatif dalam arti luas memiliki definisi antara lain adalah belajar bersama yang
melibatkan 4-5 orang, yang bekerja bersama menuju kelompok kerja yang mana tiap
anggota bertanggung jawab secara individu sebagai bagian dari hasil yang tak
akan bisa dicapai tanpa adanya kerjasama antar kelompok.
Dari uraian di atas dapat diperoleh
kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran
efektif dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja
sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam
pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman
dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Komponen, Prinsip dan
Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin dan Johnson dan
Johnson, strategi pembelajaran kooperatif
mempunyai dua komponen utama, yaitu komponen tugas kooperatif (cooperative task) dan komponen struktur
insentif kooperatif (cooperative incentive structure). Tugas
kooperatif berkaitan dengan hal yang menyebabkan anggota bekerja sama dalam
menyelesaikan tugas kelompok, sedangkan struktur insentif kooperatif
merupakan sesuatu yang membangkitkan motivasi individu untuk bekerja sama
mencapai tujuan kelompok. Struktur insentif dianggap sebagai keunikan dari
pembelajaran kooperatif,
karena melalui struktur insentif setiap anggota kelompok bekerja keras untuk
belajar, mendorong dan memotivasi anggota lain menguasai materi pelajaran,
sehingga mencapai tujuan kelompok.
Jadi, hal yang menarik dari strategi
pembelajaran kooperatif adalah adanya harapan selain memiliki dampak pembelajaran,
yaitu berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik (student achievement) juga mempunyai dampak pengiring seperti relasi
sosial, penerimaan terhadap peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma
akademik, penghargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan pada yang
lain.
Sedangkan menurut Johnson dan Johnson
(1994) ada lima prinsip dasar
pembelajaran kooperatif yaitu
sebagai berikut.
a.
Ketergantungan positif
·
Saling
ketergantungan yang bersifat
positif antara siswa. Dalam belajar
kooperatif siswa merasa bahwa
mereka sedang bekerjasama
untuk mencapai satu
tujuan. Seorang siswa tidak akan
sukses kecuali semua
anggota kelompoknya sukses. Siswa akan merasa bahwa
dirinya merupakan bagian dari kelompok
yang juga mempunyai andil
terhadap suksesnya kelompok. Berlangsung ketika
masing-masing anggota kelompok menyadari bahwa mereka tidak bisa sukses kecuali
anggota kelompok lainnya berhasil.
·
Peran pendidik yaitu merancang
dan mengomunikasikan tujuan-tujuan dan tugas-tugas kelompok dalam mencapai
pemahaman tentang kerjasama tersebut.
·
Peran peserta didik
yaitu memiliki kontribusi unik untuk melakukan usaha bersama.
b. Interaksi
promotif langsung atau interaksi tatap muka
·
Belajar
kooperatif akan meningkatkan interaksi
antara siswa. Hal ini, terjadi dalam hal
seorang siswa akan membantu
siswa lain untuk sukses sebagai anggota
kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung
secara alamiah karena
kegagalan seseorang dalam kelompok mempengaruhi
suksesnya kelompok sehingga harus ada interaksi yang
sedang berlangsung, yang mana interaksi
tersebut adalah interaksi yang terjadi antara peserta didik dalam kelompok
kecilnya.
·
Peran pendidik yaitu
memberikan contoh- contoh bagaimana seharusnya suatu kelompok tersebut
berfungsi.
·
Peran peserta didik
yaitu mendiskusikan tugas, memutuskan bagaimana penyelesaian suatu masalah, dan
bertukar ide.
c. Akuntabilitas
individual dan kelompok
·
Setiap pelajar
bertanggung jawab untuk beberapa bagian yang dapat diidentifikasi dari
pembelajaran. Tanggung
jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggungjawab
siswa dalam hal (a)
membantu
siswa yang membutuhkan bantuan dan (b) siswa tidak dapat hanya
sekadar “membonceng” pada hasil kerja
teman sekelompoknya.
·
Peran pendidik yaitu memberikan
hak individual yang lebih kuat kepada para siswa untuk bekerja sama sehingga
dapat mencapai kompetensi individual yang lebih besar.
·
Peran peserta didik
yaitu seluruh kelompok bertanggung jawab untuk keberhasilan setiap anggotanya
dan setiap siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan pemahaman tentang
penguasaan materinya.
d. Keterampilan-keterampilan
antar pribadi dan kelompok kecil
·
Dalam
belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi
yang diberikan seorang
siswadituntut untuk belajar bagaimana
berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya.
Bagaimana siswa
bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan
menuntut keterampilan khusus.
·
Peserta didik harus
menggunakan keterampilan interpersonal yang tepat
·
Fasilitator yaitu
pendidik dari pembelajaran kooperatif harus fokus pada keterampilan-keterampilan sosial yang harus
diajarkan dengan tujuan yang tepat.
e. Pemrosesan
kelompok
Kelompok-kelompok
perlu menyampaikan tindakan-tindakan anggota kelompok yang membantu dan tidak
membantu, seberapa baik mereka dalam bekerja sama, dan membuat keputusan
tentang perilaku-perilaku yang
seharusnya diteruskan dan diubah.
Proses kelompok terjadi
jika anggota kelompok
mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai
tujuan dengan baik
dan membuat hubungan
kerja yang baik.
Sedangkan
karakteristik strategi pembelajaran kooperatif secara umum ada empat poin.
Empat karakteristik itu adalah sebagai berikut.
a. Pembelajaran
Secara Tim
Pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh
karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim
(anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan
tim. Setiap kelompok bersifat heterogen. Artinya, kelompok terdiri atas anggota
yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang
berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling
memberikan pengalaman, saling memberikan konribusi terhadap keberhasilan
kelompok.
b. Didasarkan
pada manajemen kooperatif
Sebagaimana pada umumnya, manajemen
mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi,
fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol. Demikian juga dalam pembelajaran
kooperatif. Fungsi perencanaan menujukkan bahwa pembelajaran kooperatif
memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara
efektif, misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya,
apa yang harus digunakan untukmencapai tujuan itu dan lain sebagainya. Fungsi pelaksanaan
menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan
perencanaan, melalui langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan
termasuk ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati bersama. Fungsi organisasi
menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap
anggota kelompok, oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap
anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam pembelajaran
kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun
nontes.
c. Kemauan
untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif
ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja
sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif. Setiap anggota
kelompok bukan saja harus diatur dan mengerjakan tanggung jawab masing-masing, akan
tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu. Misalnya, yang pintar perlu
membantu yang kurang pintar.
d. Keterampilan
Bekerja Sama
Kemauan untuk bekerja sama itu
kemudian di praktikan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam
keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan
sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain. siswa perlu dibantu
mengatasi berbagai hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga
setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan
kontribusi kepada keberhasilan kelompok.
Tipe-tipe Pembelajaran
Kooperatif
A. Pasangan
kooperatif
Bentuk
sederhana dari pembelajaran kooperatif adalah ketika siswa belajar berpasangan.
Ini adalah bentuk efisien dari kelompok belajar. Hal inimerupakan cara yang
baik untuk mengenalkan peserta didik kepada pembelajaran kooperatif karena
memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosial (
mendengarkan, menerima pendapat dari orang lain). Ini juga membantu siswa dalam
mengembangkan kemampuan dalam menjelaskan, bertanya, dan menolong orang lain
untuk belajar.
Salah satu cara untuk menggunakan strategi ini adalah
denganmemberikan setiap pasangan materi untuk dibaca yang terbagi menjadi
beberapa bagian. Mereka membaca materi satu bagian pada suatu waktu. Setelah
bagian pertama, salah satu peserta didik di masing-masing pasangan menjelaskan
kepada peserta didik lain apa yang mereka baca. Mereka kemudian
mendiskusikannya dan datang kesepakatan tentang poin-poin penting. Mereka
kemudian membaca bagian berikutnya dan peserta didik kedua pada setiap pasangan
tersebut menjelaskan apa artinya. Proses ini berlanjut sampai semua materi
telah dibaca, dibahas, dan dipahami. Setelah semua materi sudah dibaca dan
didiskusikan peserta didik melakukan kuis satu sama lain dan mencoba untuk
mengklarifikasi kesalahpahaman tentang arti keseluruhan materi. Gurukemudian memberikan seluruh kelas tes untuk memeriksa apa
yang telah mereka pelajari.
B. Student Teams Achievement
Division (STAD)
Pembelajaran
kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran
kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota
tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian
tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan
penghargaan kelompok.
Slavin
(dalam Nur, 2000:26) menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim
belajar beranggotaan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat
prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian
siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah
menguasai pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh siswa diberikan tes tentang
materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
Seperti
halnya pembelajaran lainnya, pembelajaran kooperatif tipe STAD ini juga
membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan.
Persiapan-persiapan tersebut antara lain :
1. Perangkat
Pembelajaran
Sebelum melaksanakan
kegiatan pembelajaran ini perlu dipersiapkan perangkat pembelajarannya, yang
meliputi Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran, buku
Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) beserta lembar jawabannya.
2. Membentuk
Kelompok Kooperatif
Menentukan anggota
kelompok diusahakan agar kemampuan siswa dalam kelompok adalah heterogen dan
kemampuan antar satu kelompok dengan kelompok lainnya relatif homogen. Apabila
memungkinkan kelompok kooperatif perlu memerhatikan ras, agama, jenis kelamin,
dan latar belakang sosial. Apabila dalam kelas terdiri atas ras dan latar
belakang yang relatif sama, maka pembentukan kelompok dapat didasarkan pada
prestasi akademik, yaitu :
a.
Siswa dalam kelas
terlebih dahulu di ranking sesuai kepandaian dalam mata pelajaran. Tujuannya
adalah untuk mengurutkan siswa sesuai kemampuannya dan digunakan untuk
mengelompokkan siswa ke dalam kelompok.
b.
Menentukan tiga
kelompok dalam kelas yaitu kelompok atas, kelompok menengah, dan kelompok
bawah. Kelompok atas sebanyak 25% dari seluruh siswa yang diambil dari siswa
ranking satu, kelompok menengah 50% dari seluruh siswa yang diambil dari urutan
setelah diambil kelompok atas, dan kelompok bawah sebanyak 25% dari seluruh
siswa yaitu terdiri atas siswa setelah diambil kelompok atas dan kelompok
menengah.
3. Menentukan
Skor Awal
Skor awal yang dapat
digunakan dalam kelas kooperatif adalah nilai ulangan sebelumnya. Skor awal ini
dapat berubah setelah ada kuis. Misalnya pada pembelajaran lebih lanjut dan
setelah diadakan tes, maka hasil tes masing-masing individu dapat dijadikan
skor awal.
4. Pengaturan
Tempat Duduk
Pengaturan tempat duduk
dalam kelas kooperatif perlu juga diatur dengan baik, hal ini dilakukan untuk
menunjang keberhasilan pembelajaran kooperatif apabila tidak ada pengaturan
tempat duduk dapat menimbulkan kekacauan yang menyebabkan gagalnya pembelajaran
pada kelas kooperatif.
5. Kerja
Kelompok
Untuk mencegah adanya
hambatan pada pembelajaran kooperatif tipe STAD, terlebih dahulu diadakan
latihan kerja sama kelompok. Hal ini bertujuan untuk mengenal lebih jauh
masing-masing individu dalam kelompok.
Langkah-langkah
pembelajaran kooperatif tipe STAD ini didasarkan pada langkah-langkah
kooperatif yang terdiri atas enam langkah atau fase. Fase-fase dalam
pembelajaran ini :
Fase-fase
Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Fase
|
Kegiatan
Guru
|
Fase
1
Menyampaikan
tujuan dan memotivasi siswa
|
Menyampaikan
semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai
pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
|
Fase
2
Menyajikan/menyampaikan
informasi
|
Menyajikan
informasi kepada siswa dengan cara mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan.
|
Fase
3
Mengorganisasikan
siswa dalam kelompok-kelompok belajar
|
Menjelaskan
kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap
kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
|
Fase
4
Membimbing
kelompok bekerja dan belajar
|
Membimbing
kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
|
Fase
5
Evaluasi
|
Mengevaluasi
hasil belajar tentang materi yang telah diajarkan atau masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya.
|
Fase
6
Memberikan
penghargaan
|
Mencari
cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan
kelompok.
|
Penghargaan
atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan
tahapan-tahapan sebagai berikut:
a. Menghitung
skor individu
Menurut Slavin (dalam Ibrahim,
dkk.2000) untuk memberikan skor perkembangan individu:
Perhitungan
Skor Perkembangan
Nilai tes
|
Skor Perkembangan
|
Lebih dari 10 poin di bawah skor
awal
|
0 poin
|
10 poin di bawah sampai 1 poin di
bawah skor awal
|
10 poin
|
Skor awal sampai 10 poin di atas
skor awal
|
20 poin
|
Lebih dari 10 poin di atas skor
awal
|
30 poin
|
Nilai sempurna (tanpa
memerhatikan skor awal)
|
30 poin
|
b. Menghitung
skor kelompok
Skor kelompok ini
dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu
dengan menjumlahkan
semua skor perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah
anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh
kategori kelompok seperti:
Tingkat Penghargaan
Kelompok
Rata-rata Tim
|
Predikat
|
0 ≤ x ≤ 5
|
-
|
5 ≤ x ≤ 15
|
Tim baik
|
15 ≤ x ≤ 25
|
Tim hebat
|
25 ≤ x ≤ 30
|
Tim super
|
c. Pemberian
hadiah dan pengakuan skor kelompok
Setelah masing-masing
kelompok memperoleh predikat, guru memberikan hadiah/penghargaan kepada
masing-masing kelompok sesuai dengan predikatnya.
Dari
tinjauan tentang pembelajaran kooperatif tipe STAD ini menunjukkan bahwa
pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang
cukup sederhana. Dikatakan demikian karena kegiatan pembelajaran yang dilakukan
masih dekat kaitannya dengan pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat
pada fase 2 dari fase-fase pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu adanya
penyajian informasi atau materi pelajaran. Perbedaan model ini dengan model
konvensional terletak pada adanya pemberian penghargaan pada kelompok.
C. Teams Games Tournament
(TGT)
Model
Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games
Tounament (TGT), atau Pertandingan Permainan Tim dikembangkan secara asli
oleh David DeViries dan Keath Edward (1995). Pada model ini siswa memainkan
permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk
skor tim mereka.
TGT
dapat digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dari ilmu-ilmu eksak,
ilmu-ilmu sosial maupun bahasa dari jenjang pendidikan dasar (SD, SMP) hingga
perguruan tinggi. TGT sangat cocok untuk mengajar tujuan pembelajaran yang
dirumuskan dengan tajam dengan satu jawaban benar. Meski demikian, TGT juga
dapat diadaptasi untuk digunakan dengan tujuan yang dirumuskan dengan kurang
tajam dengan menggunakan penilaian yang bersifat terbuka, misalnya esai atau
kinerja (Nur & Wikandari, 2000: 27).
a. Langkah-langkah
Pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT)
Secara runut
implementasinya TGT terdiri dari 4 komponen utama, antara lain: (1) Presentasi
guru (sama dengan STAD ); (2) Kelompok Belajar ( sama dengan STAD ); (3)
Turnamen; dan (4) Pengenalan Kelompok.
a) Guru
menyiapkan:
·
Kartu Soal
·
Lembar Kerja Siswa
·
Alat/Bahan
b) Siswa
dibagi atas beberapa kelompok
c) Guru
mengarahkan aturan permainannya.
Adapun
langkah-langkahnya : membentuk kelompok yang beranggotakan 4 orang yang
merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru
menyiapkan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk
memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut.
Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis, pada waktu kuis ini mereka tidak dapat
saling membantu.
b. Aturan
(Skenario) Permainan
Dalam satu permainan
terdiri dari: kelompok pembaca, kelompok penantang I, kelompok penantang II, dan seterusnya
sejumlah kelompok yang ada.
Kelompok Pembaca,
bertugas: (1) Ambil kartu bernomor dan cari pertanyaan pada lembar permainan;
(2) Baca pertanyaan keras-keras; dan (3) beri jawaban.
Kelompok Penantang I
bertugas: Menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang berbeda. Sedangkan
kelompok Penantang II: (1) Menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang
berbeda; dan (2) Cek lembar jawaban. Kegiatan ini dilakukan secara bergiliran (games ruler).
c. Sistem
Perhitungan Poin Turnamen
Skor siswa dibandingkan
dengan rerata skor yang lalu mereka sendiri, dan poin diberikan berdasarkan
pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampaui prestasi yang laluinya
sendiri. Poin tiap anggota tim ini dijumlahkan
untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria tertentu dapat
diberi sertifikat atau ganjaran (award)
yang lain.
D. Tim
Ahli (Jigsaw)
a. Gambaran
Umum Jigsaw
Jigsaw telah dikembangkan
dan diuji coba oleh Elliot Aroson dan teman-teman dari Universitas Texas, dan
diadopsi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins.
b. Langkah-langkah
Pembelajaran Jigsaw
·
Siswa dibagi atas
beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5-6 orang).
·
Materi pelajaran
diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi
beberapa sub bab.
·
Setiap anggota kelompok
membaca subbab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
Misalnya, jika materi yang disampaikan mengenai teori atom. Maka seorang siswa
dari satu kelompok mempelajari tentang teori atom Dalton, siswa yang lain dari
kelompok satunya mempelajari tentang teori atom Rutherford, begitu pun siswa
lainnya mempelajari teori atom Thomson, dan lainnya lagi mempelajari teori atom
Bohr.
·
Anggota dari kelompok
lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok
ahli untuk mendiskusikannya.
·
Setiap anggota kelompok
ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
·
Pada pertemuan dan
diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.
Persyaratan yang lain
yang harus disiapkan oleh guru, antara lain: (1) Bahan Kuis; (2) Lembar Kerja
Siswa (LKS); dan (3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sistem evaluasi
pada Jigsaw sama dengan sistem evaluasi pada tipe STAD, yaitu pemberian skor
nilai baik secara individual maupun kelompok.
c. Jigsaw
Tipe II
Jigsaw
tipe II dikembangkan oleh Slavin (Roy Killen, 1996) dengan sedikit
perbedaan.Dalam belajar kooperatif tipe jigsaw, secara umum siswa dikelompokkan
secara heterogen dalam kemampuan. Siswa diberi materi yang baru atau pendalaman
dari materi sebelumnya untuk dipelajari. Masing-masing anggota kelompok secara
acak ditugaskan untuk menjadi ahli (expert)
pada suatu aspek tertentu dari materi tersebut. Setelah membaca dan mempelajari
materi, “ahli” dari kelompok berbeda berkumpul untuk mendiskusikan topik yang
sama dari kelompok lain sampai mereka menjadi “ahli” di konsep yang ia
pelajari. Kemudian kembali ke kelompok semula untuk mengajarkan topik yang
mereka kuasai kepada teman sekelompoknya. Terakhir diberikan tes atau assessment yang lain pada semua topik
yang diberikan.
Model
pembelajaran Jigsaw tipe II sudah dikembangkan oleh Slavin. Ada perbedaan mendasar
antara pembelajaran Jigsaw I dan Jigsaw II, pada tipe I, awalnya siswa hanya
belajar konsep tertentu yang akan menjadi spesialisasinya sementara
konsep-konsep yang lain ia dapatkan melalui diskusi dengan teman satu grupnya.
Pada tipe II ini setiap siswa memperoleh kesempatan belajar secara keseluruhan
konsep (scan read) sebelum ia belajar
spesialisasinya untuk menjadi expert.
Hal ini untuk memperoleh gambaran menyeluruh dari konsep yang akan dibicarakan.
1) Langkah-langkah
Pembelajaran dengan Jigsaw II
a) Orientasi
Pendidik menyampaikan
tujuan pembelajaran yang akan diberikan. Memberikan penekanan tentang manfaat
penggunaan metode Jigsaw dalam proses belajar mengajar. Mengingatkan senantiasa
percaya diri, kritis, kooperatif dalam model pembelajaran ini. Peserta didik
diminta belajar konsep secara keseluruhan untuk memperoleh gambaran keseluruhan
dari konsep. (Bisa juga pemahaman konsep ini menjadi tugas yang sebelumnya
harus dibaca dirumah).
b) Pengelompokan
Misalkan dalam kelas
ada 20 siswa, yang sudah diketahui kemampuannya dan sudah di-ranking, bagi dalam 25% (rangking 1-5) kelompok sangat baik, 25%
(rangking 6-10) kelompok baik, 25%
selanjutnya (rangking 11-15) kelompok
sedang, 25% (rangking 15-20) kelompok
rendah.
Selanjutnya bagi
menjadi 5 grup (A-E) yang isi tiap-tiap grupnya heterogen dalam kemampuannya,
berilah indeks 1 untuk siswa dalam kelompok sangat baik, indeks 2 untuk
kelompok baik, indeks 3 untuk kelompok sedang dan indeks 4 untuk kelompok
rendah.
Misalkan (A1 berarti
dari grup A dari kelompok sangat baik, ..., A4 grup A dari kelompok rendah).
Tiap grup akan berisi
Grup A (A1,A2,A3,A4)
Grup B (B1,B2,B3,B4)
Grup C (C1,C2,C3,C4)
Grup D (D1,D2,D3,D4)
Grup E (E1,E2,E3,E4)
c) Pembentukan
dan pembinaan kelompok expert
Selanjutnya grup itu
dipecah menjadi kelompok yang akan mempelajari materi yang guru berikan dan
dibina supaya menjdiexpert,
berdasarkan indeksnya.
Setiap kelompok
diharapkan bisa belajar topik yang diberikan dengan sebaik-baiknya sebelum ia
kembali ke dalam grup sebagai tim ahli “expert”,
tentunya pendidik cukup penting dalam fase ini.
d) Diskusi
(Pemaparan) kelompok ahli dalam grup
Expertist
(peserta didik ahli) dalam konsep tertentu ini, masing-masing kembali ke grup
semula. Pada fase ini kelima grup (1-5) memiliki ahli dalam konsep-konsep
tertentu. Selanjutnya pendidik mempersilakan anggota grup untuk
mempresentasikan keahliannya kepada grupnya masing-masing, satu persatu. Proses
ini diharapkan akan terjadi sharing
pengetahuan antara mereka.
Aturan dalam fase ini
adalah:
-
Siswa memiliki tanggung
jawab untuk memastikan bahwa setiap anggota tim mempelajari materi yang
diberikan.
-
Memperoleh pengetahuan
baru adalah tanggung jawab bersama, jadi tidak ada yang selesai belajar sampai
setiap anggota menguasai konsep.
-
Tanyakan pada anggota
grup sebelum tanya pada pendidik.
-
Pembicaraan dilakukan
secara pelan agar tidak mengganggu grup lain.
-
Akhiri diskusi dengan
“merayakannya” agar memperoleh kepuasan.
e) Tes
(Penilaian)
Pada fase ini guru
memberikan tes tulis untuk dikerjakan oleh siswa yang memuat seluruh konsep
yang didiskusikan. Pada tes ini siswa tidak diperkenankan untuk bekerja sama.
Jika mungkin tempat duduknya agak dijauhkan.
f) Pengakuan
Kelompok
Penilaian pada
pembelajaran kooperatif berdasarkan skor peningkatan individu, tidak didasarkan
pada skor akhir yang diperoleh siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh
skor melampaui rata-rata skor sebelumnya. Setiap siswa dapat memberikan
kontribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam sistem skor kelompok. Siswa
memperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis mereka melampaui
skor dasar mereka.
E. Investigasi
Kelompok (Group Investigation)
Investigasi
kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan
paling sulit untuk diterapkan. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Thelan.
Dalam perkembangan model ini diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari
Universitas Tel Aviv. Berbeda dengan STAD dan Jigsaw, siswa terlihat dalam perencanaan
baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya pendidikan mereka. Pendekatan
ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan
yang lebih berpusat pada guru. Pendekatan ini juga memerlukan mengajar siswa
keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik.
Dalam
implementasi tipe investigasi kelompok guru membagi kelas menjadi
kelompok-kelompok dengan anggota 5-6 siswa yang heterogen. Kelompok disini
dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang
sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki dan
melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih. Selanjutnya ia
menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
Menurut
Sharan (dalam Trianto.2009) membagi langkah-langkah pelaksanaan model
investigasi kelompok meliputi 6 (enam) fase.
a.
Memilih topik
Siswa memilih subtopik
khusus di dalam suatu daerah masalah umum yang biasanya ditetapkan oleh guru.
Selanjutnya siswa diorganisasikan menjadi dua sampai enam anggota tiap kelompok
menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi tugas. Komposisi kelompok hendaknya
heterogen secara akademis maupun etnis.
b.
Perencanaan kooperatif
Siswa dan guru
merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus yang konsisten
dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama.
c.
Implementasi
Siswa menerapkan
rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap kedua. Kegiatan
pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan keterampilan yang luas
dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda
baik di dalam atau di luar sekolah. Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap
kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.
d.
Analisis dan sintesis
Siswa menganalisis dan
menyintesis informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan
bagaimana informasi tersebut
diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk
dipresentasikan kepada seluruh kelas.
e.
Presentasi hasil final
Beberapa atau semua
kelompok menyajikan hasil penyelidikannya dengan cara yang menarik kepada
seluruh kelas, dengan tujuanagar siswa yang lain saling terlibat satusama lain
dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu.
Presentasikan dikoordinasi oleh guru.
f. Evaluasi
Dalam hal
kelompok-kelompok menangani aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan
guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu
keseluruhan evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau
kelompok.
Perbedaan
Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif
Segala bentuk pembelajaran
kooperatif mengharuskan siswa untuk bekerja di atau untuk membantu satu sama
lain, dari pembelajaran kooperatif yang berbeda adalah dalam hal:
1.
Penyajian informasi
yang peserta didik akan pelajari
2. Interaksi
peserta didik satu dengan yang lainnya.
3. Uji
yang diberikan kepada peserta didik.
4. Pemilihan
topik yang akan dipelajari
5.
Formalitas dari
interaksi antara peserta didik
Persamaan
Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif
Dalam
semua pendekatan pembelajaran kooperatif yang dibahas disini, ada penekanan
pada tujuan tim, dan keberhasilan tim sebagai hasil dari semua anggota tim
mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu perlu memahami tiga konsep penting:
penghargaan tim, tanggung jawab individu, dan kesempatan yang sama untuk
sukses.
Penghargaan
tim diberikan jika secara bersama peserta didik dalam tim mencapai kriteria
pembelajaran yang telah ditentukan. Alasan penghargaan berdasarkan upaya tim, perlunya
penekanan anggota tim untuk bekerja sama dan membantu satu sama lain. Kecuali
dalam kasus TGT, tim tidak dalam persaingan antara satu dengan yang lain karena
mungkin bagi semua tim untuk menerima penghargaan dalam setiap minggu tertentu
(atau periode lainnya). Setiap anggota tim bertanggungjawab untuk belajarnya
karena keberhasilan tim tergantung pada pembelajaran individu dari semua
anggota tim. Bersama-sama, tanggungjawab individu dan penghargaan tim mendorong
siswa untuk saling membantu satu sama lain dalam belajar.
Dengan
pengecualian TGT, kesempatan yang sama untuk sukses setiap siswa dan setiap tim dicapai karena
siswa berkontribusi untuk skor tim mereka dengan meningkatkan kinerja mereka sebelumnya (atau dengan mencapai nilai
maksimum). Dengan demikian, berprestasi tinggi, rata-rata dan rendah semua ditantang
untuk melakukan yang terbaik dan mereka semua dihargai untuk upaya ini, karena
semua anggota tim harus belajar untuk membantu tim mereka, dan karena prestasi
yang rendah dapat membantu tim seperti prestasi yang tinggi, kontribusi dari
semua anggota tim dihargai. Penghargaan bagi siswa untuk meningkatkan
penampilan sebelumnya bahkan memberi penghargaan untuk penampilan mereka relatif
kepada siswa lain merupakan prinsip penting dalam OBE. Hal ini juga tampaknya
menjadi salah satu alasan utama mengapa siswa termotivasi oleh keterlibatan
dalam pembelajaran kooperatif.
Langkah-langkah
Pembelajaran Kooperatif
Seperti halnya
pembelajaran lainnya, pembelajaran kooperatif ini juga membutuhkan persiapan
yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan
tersebut antara lain :
1.
Memberikan
bimbingan dan praktik kepada
siswa dalam membantu
satu sama lain untuk belajar.
2.
Menentukan
dengan jelas hasil-hasil
yang ingin dicapai
peserta didik.
3.
Menentukan
permasalahan yang menjadi
focus siswa ketika
mereka mencoba mencapai
hasil.
4.
Memilih
tipe pembelajaran kooperatif
yang sesuai.
5.
Menyiapkan
bahan yang siswa perlukan untuk belajar.
6.
Menentukan
dasar untuk membentuk
kelompok.
7.
Menjelaskan
kepada siswa bagaimana
sistem pembelajaran kooperatif
tersebut.
8.
Mengembangkan
system untuk mengenali
dan menghargai pencapaian
pembelajaran siswa baik secara
individual atau kelompok.
9.
Menyiapkan
instrument penilaian yang sesuai.
10. Menyimpan hasil presentasi.
11. Merencanakan refleksi.
Persiapan
lainnya itu dalam pembentukan
kelompok belajar. Langkah-langkah dalam menentukan sebuah
kelompok dalam pembelajaran kooperatif
yaitu sebagai berikut.
a.
Kelompok
dibuat heterogen
b.
Jumlah
anggota kelompok bervariasi antara 2-10 orang, tetapi
sebaiknya jumlah anggota kelompok
dibatasi antara 4-5 orang.
c.
Anggota
kelompok yang efektif sebenarnya bergantung pada usia dan
pengalaman siswa dalam bekerja
secara kelompok.
Langkah-langkah
pembelajaran kooperatif yang terdiri atas enam langkah atau fase. Fase-fase
dalam pembelajaran ini adalah
sebagai berikut.
Langkah-langkah Model Pembelajaran
Kooperatif
Fase
|
Tingkah Laku Guru
|
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan motivasi
|
Guru
menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran
tersebut dan memotivasi siswa belajar.
|
Fase 2
Menyajikan informasi
|
Guru
menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
bacaan.
|
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam
kelompok kooperatif
|
Guru
menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
|
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan
belajar
|
Guru
membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
mereka.
|
Fase 5
Evaluasi
|
Guru
mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau
masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
|
Fase 6
Memberikan penghargaan
|
Guru
mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu
dan kelompok.
|
Kelebihan dan
Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
Kelebihan
strategi pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut.
·
Penggunaan pembelajaran
ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan
kemampuan hubungan sosial, meningkatkan harga diri dan sikap menerima
kekurangan diri dan orang lain.
·
Dapat merealisasikan
kebutuhan siswa dalam berpikir, memecahkan masalah dan mengintegerasikan
pengetahuan dengan ketrampilan.
·
Pembelajaran kooperatif
sangat fleksibel dan dapat digunakan dalam semua bidang subjek di semua tingkat
pendidikan.
·
Pembelajaran kooperatif
adalah strategi yang efektif untuk memiliki siswa mencapai berbagai hasil
akademik dan sosial termasuk peningkatan prestasi, peningkatan harga diri,
hubungan interpersonal yang positif dengan siswa lain, keterampilan manajemen
waktu yang lebih baik, dan sikap positif terhadap sekolah. Banyak dari hasil
ini dapat dicapai secara bersamaan, bukannya dikembangkan dalam isolasi.
·
Pembelajaran kooperatif
mengajarkan siswa untuk menjadi kurang bergantung pada guru dan lebih
bergantung pada kemampuan mereka sendiri untuk berpikir, untuk mencari
informasi dari sumber lain, dan belajar dari siswa lain. Mereka menjadi
diberdayakan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk belajar
dapat meningkatkan kepuasan peserta didik, dan jika keterampilan bekerjasama
diajarkan secara eksplisit mereka dapat ditransfer ke konteks pembelajaran
baru.
·
Pembelajaran kooperatif
membantu siswa untuk belajar menghormati satu kekuatan dan keterbatasan
oranglain dan menerima perbedaan-perbedaan ini. Hal ini sangat penting dalam
ruang kelas dengan budaya yang beragam dan di kelas yang mencakup siswa
penyandang cacat.
·
Pembelajaran kooperatif
memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk melihat bahwa perbedaan individu
dalam kemampuan, latar belakang, budaya, dan pengalaman dihargai dan dihormati,
dan dapat ditampung dalam tugas-tugas belajar dan konteks. Hal ini meningkatkan
motivasi dan prestasi siswa.
·
Pembelajaran kooperatif
membantu siswa untuk memahami bahwa sudut pandang yang berbeda tidak perlu
memecah-belah artinya mereka dapat menjadi aspek positif dari pengembangan
pemahaman tentang subjek.
·
Pembelajaran kooperatif
berguna dalam mempromosikan rasa tanggung jawab kepada oranglain, dan kemauan
untuk merefleksikan hasil.
·
Pembelajaran kooperatif
dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa dan harga diri karena memungkinkan
semua siswa (bukan hanya berprestasi tinggi) untuk mengalami kesuksesan belajar.
·
Pembelajaran kooperatif
dapat mengubah pandangan siswa tentang belajar . Ini membantu mereka untuk
bergerak dari belajar menghafal sebagai individu fakta untuk melihat itu sebagai
konstruksi kolektif pemahaman .
·
Pembelajaran kooperatif
mendorong siswa untuk berpikir tentang proses belajar mereka, mengidentifikasi
keterbatasan pengetahuan mereka, dan belajar untuk mencari bantuan bila
diperlukan.
·
Pembelajaran kooperatif
menekankan pemikiran demokrasi dan praktik sebagai cara diinginkan untuk
orang-orang untuk berinteraksi.
·
Pembelajaran kooperatif
dapat mengubah pola interaksi verbal dari siswa, sehingga mereka memanfaatkan
lebih besar dari pola lisan tertentu diyakini terkait dengan peningkatan
pembelajaran seperti pernyataan dukungan dan permintaan bantuan.
·
Pembelajaran kooperatif
dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menggunakan informasi dan keterampilan
yang telah mereka pelajari dalam abstrak untuk membuat keputusan nyata.
·
Pembelajaran kooperatif
dapat efektif dalam mengembangkan kreativitas siswa dan kemampuan untuk bekerja
secara bersama-sama.
·
Bila dibandingkan
dengan kegiatan ceramah dan diskusi, pembelajaran kooperatif dapat menyebabkan
frustrasi belajar
siswa berkurang, tidak
sering bingung, merasa
lebih menantang intelektual, dan
merasa lebih aktif terlibat dalam pembelajaran.
Kekurangan
strategi pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut.
·
Mencoba menggunakan
pembelajaran kooperatif tidak menjamin bahwa siswa akan belajar.
·
Sebuah fitur penting
dari koperasi pembelajaran adalah bahwa siswa belajar dari satu sama lain. Siswa
dapat belajar jauh lebih sedikit daripada mereka yang dapat instruksi langsung
dari guru. Guru akan menghabiskan cukup waktu untuk membantu siswa untuk
mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk membantu satu sama lain.
·
Beberapa siswa tidak
suka untuk belajar secara kooperatif, mereka lebih suka bekerja sendiri. Sternbergmenyatakan hal ini
sebagai internal siswa yang lebih memilih untuk menerapkan kecerdasan mereka
untuk hal-hal atau ide-ide dalam isolasi dari orang lain. Penting untuk
menyadari bahwa siswa tersebut tidak selalu memiliki kemampuan yang kurang dan
mereka tidak harus mencoba untuk menjadi pengganggu melalui kurangnyakerjasama.
Guru harus bersabar karena peserta didik ini mungkin cemas bekerja dalam
kelompok, sabar dalam membantumereka
untuk menjadi fleksibel dalam pendekatan mereka untuk belajar.
·
Untuk menjadi sukses,
pembelajaran kooperatif perlu digunakan selama jangka waktu yang cukup lama sehingga
siswa mampu mengembangkan kemampuannya untuk bekerjasama. Ini bukan strategi
yang dapat di gunakan hanya sekali dan langsung berhasil.
·
Menghabiskan banyak
waktu untuk menghitung nilai prestasi kelompok.
·
Sangat bergantung pada
insentif kelompok untuk memotivasi siswa.
·
Meskipun kerjasama
merupakan kemampuan yang sangat penting bagi siswa untuk dikuasai, banyak dari
kegiatan hidup didasarkan pada usaha individu karena itu siswa harus belajar
untuk mandiri serta belajar bagaimana untuk bekerja sama.
·
Persepsi siswa tentang
kemampuan dan status sosial dari anggota kelompok dapat mempengaruhi fungsi
kelompok itu. Guru perlu menekankan bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang
unik dan bahwa kontribusi setiap orang adalah penting.
·
Beberapa siswa mungkin
awalnya keberatan dengan ide bahwa penilaian mereka tergantung pada
pembelajaran siswa lain dalam kelompok mereka. Guru harus membuat jelas bahwa kelompok
mungkin menyelesaikan tugas atau menghasilkan produk (yang akan dinilai sebagai
upaya kelompok) tapi belajar adalah secara individu sehingga individu juga
harus menunjukkan pencapaian hasil.
Penerapan Pembelajaran
Kooperatif dalam Pembelajaran Kimia
Contoh rencana pembelajaran
model STAD dalam pembelajaran kimia.
Rencana Pembelajaran Model STAD-Kimia
Mata Pelajaran :
Kimia
Kelas /Semester :
XI/ 1
Waktu :
2 x 45 menit
A.
Standar Kompetensi :
Memahami
kinetika dan kesetimbangan reaksi kimia
serta faktor-faktor yang memperngaruhinya.
B.
Kompetensi
Dasar :
Menyelidiki faktor-faktor yang
mempengaruhi pergeseran arah kesetimbangan dan menyimpulkan hasilnya serta
penerapannya dalam industri.
C.
Indikator :
ü Meramalkan
arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan azas Le-Chatelier.
ü Menyimpulkan
pengaruh perubahan konsentrasi, suhu, tekanan dan volume padapergeseran
kesetimbangan berdasar data hasil percobaan.
ü Menuliskan
laporan hasil percobaan secara menyeluruh dan mempresentasikan.
D. Materi
Pokok :
ü Azas
Le Chatelier: Bila ke dalam suatu sistem kesetimbangan dilakukan aksi (perubahan), maka sistem akan
mengadakan reaksi sedemikian hingga pengaruh aksi tersebut sekecil mungkin.
ü Perubahan
yang dapat mempengaruhi sistem kesetimbangan adalah, perubahan konsentrasi,
perubahan tekanan, dan perubahan volume.
E. Media
:
Alat dan Bahan Laboratorium.
Skenario
Kegiatan dan Pengalaman Belajar
(Pengintegrasian
lifeskills
: Scientific skills/ process skills).
1) Fase
1 :
Tujuan Pembelajaran: (5
menit)
ü Siswa
dapat menyimpulkan pengaruh perubahan konsentrasi, suhu, tekanan dan volume
pada pergeseran kesetimbangan berdasar data hasil percobaan.
ü Siswa
dapat meramalkan arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan azas
Le-Chatelier.
ü Siswa
dapat menuliskan laporan hasilm percobaan secara menyeluruh dan
mempresentasikan.
Motivasi
: ( 5 menit)
ü Mengapa
orang penduduk asli di pegunungan tidak pernah menderita hipoksia (kekurangan
oksigen) sedangkan orang yang baru datang dari lembah dapat menderita hipoksia.
ü Demonstrasi
reaksi :
Fe3+(aq) + SCN–(aq) FeSCN2+(aq)
(kuning) (tbw) (merah darah)
Guru
menanyakan apa hubungan antara kepekatan warna dengan konsentrasi zat.
2) Fase
2: Pembentukan
kelompok(10 menit).
Pembentukan kelompok dengan
memperhatikan penyebaran nilai rata-rata hasil ulangan harian pada kompetensi
dasar sebelumnya, gender, etnis, agama dan lain-lain.
3) Fase
3: Bekerja
dalam kelompok(30 menit).
ü Mengerjakan
Worksheet eksperimen “Pergeseran Kesetimbangan”
ü Mendiskusikan
hasil eksperimen.
ü
Membuat laporan.
4) Fase
4 :
Scafolding
Guru melakukan
bimbingan terhadap kelompok (scafolding).
5) Fase
5 :
Validasi(25 menit)
Membuat kesimpulan (diskusi kelas)
6) Fase
6 :
Quizze(15 menit)
7) Fase
7 :
Recognition team (5 menit).
Pembelajaran Kinetika dan Kesetimbangan Reaksi Kimia dengan Model Pembelajaran STAD
ü Hal yang dilakukan guru:
1. Menyiapkan segala keperluan dalam
pembelajaran; materi pelajaran, kelompok belajar heterogen yang berjumlah 4 orang per team, tugas
kelompok, tes untuk kuis, rubrik penilaian, serta media dan fasilitas yang mendukung proses pembelajaran.
2. Memberikan tujuan dan motivasi
belajar pada siswa agar siswa menarik
untuk mengikuti pelajaran
3. Membuat rancangan waktu yang diperlukan untuk setiap proses pembelajaran
4. Membingbing siswa untuk memahami
materi yang diajarkan.
5. Mengevaluasi hasil tes serta
memberikan refleksi terhadap materi yang dipelajari.
6. Memberikan reward pada kelompok terbaik.
ü Hal yang dilakukan siswa:
Mengikuti
penjelasan materi yang diberikan oleh guru, berdiskusi dengan kelompok, dan mengikuti
tes. Pada kegiatan kelompok, siswa yang sudah
memahami materi yang diajarkan diharapkan mengajarkan temannya yang belum memahami materi. Kerja tim sangat dibutuhkan dalam model pembelajaran STAD karena
jika kerja tim
baik
maka hasil yang didapatkan akan baik pula.
Hasil
atau skor dalam
pembelajaran STAD bergantung
pada nilai masing-masing
anggota tim. Pada kegiatan tes atau kuis, siswa
menjawab tes secara individu
dengan kata lain tidak boleh bekerjasama dengan
temannya.
ü Langkah-langkah:
1. Penyampain tujuan dan motivasi
Tujuan Pembelajaran: (5
menit)
ü Siswa
dapat menyimpulkan pengaruh perubahan konsentrasi, suhu, tekanan dan volume
pada pergeseran kesetimbangan berdasar data hasil percobaan.
ü Siswa
dapat meramalkan arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan azas
Le-Chatelier.
ü Siswa
dapat menuliskan laporan hasil percobaan secara menyeluruh dan
mempresentasikan.
Motivasi
: ( 5 menit)
ü Mengapa
orang penduduk asli di pegunungan tidak pernah menderita hipoksia (kekurangan
oksigen) sedangkan orang yang baru datang dari lembah dapat menderita hipoksia.
ü Demonstrasi
reaksi :
Fe3+(aq) + SCN–(aq)
FeSCN2+(aq)
(kuning)
(tbw) (merah darah)
Guru menanyakan
apa hubungan antara kepekatan warna dengan konsentrasi zat.
2.
Pembagian
Kelompok. (10 menit)
Pembentukan kelompok dengan
memperhatikan penyebaran nilai rata-rata hasil ulangan harian pada kompetensi
dasar sebelumnya, gender, etnis, agama dan lain-lain.
3.
Kegiatan
belajar dalam tim (kerja tim)
(30 menit).
ü Mengerjakan
Worksheet eksperimen “Pergeseran Kesetimbangan”
ü Mendiskusikan
hasil eksperimen.
ü Membuat
laporan.
4. Scafolding
Guru melakukan
bimbingan terhadap kelompok (scafolding).
5. Validasi(25
menit)
Membuat kesimpulan (diskusi kelas)
6. Quizze (Evaluasi) (15 menit)
Guru
mengevaluasi hasil
belajar melalui pemberian kuis tentang kinetika
dan kesetimbangan reaksi
kimia serta faktor-faktor
yang mempengaruhinya, serta memberikan penilaian
terhadap presentasi hasil kerja masing-masing
kelompok. Pada kegiatan kuis siswa bekerja
secara individual.
7. Recognition team(Penghargaan prestasi tim) (5 menit)
Perhitungan Skor Perkembangan
Individu
Skor
Tes
|
Skor
perkembangan individu
|
a. Nilai
lebih dari 10 poin dibawah skor awal
b. Nilai
10 hingga 1 poin dibawah skor awal
c. Skor
awal sampai 10 poin diatasnya
d. Lebih
dari 10 poin diatas skor awal
e. Nilai
sempurna (tidak berdasarkan skor awal)
|
0
10
20
30
30
|
Perhitungan skor kelompok
dilakukan dengan cara menjumlahkan masing-masing perkembangan skor individu dan
hasilnya dibagi sesuai jumlah anggota kelompok.
Tahap
pemberian penghargaan kelompok, penghargaan kelompok bertujuan untuk memotivasi
siswa agar aktif selama menyelesaikan tugas-tugas kelompok sehingga didapatkan
kelompok yang kompak. Pemberian penghargaan ini diberikan berdasarkan perolehan
skor rata-rata yang dikategoriakn menjadi kelompok baik, kelompok hebat dan
kelompok super. Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan pemberian
penghargaan terhadap kelompok adalah sebagai berikut:
Kriteria
pemberian penghargaan
kelompok
Skor
(rata-rata kelompok)
|
Predikat
|
15-19
20-24
25-30
|
Kelompok baik
Kelompok hebat
Kelompok super
|
ü Fasilitas
LCD,
buku
pelajaran kelas XI SMA, papan tulis
ü Media
Alat
dan bahan laboratorium
PENUTUP
Pembelajaran
kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengancara membentuk
kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar
pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan
belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan
pelajaran.
Slavin dan Abrami dan Chambers menyarankan
bahwa belajar melalui kerjakelompok dapat dijelaskan dari sejumlah perspektif
teoritis. Perspektif teoritis tersebut terdiri dari perspektif motivasi,
perspektif kohesi sosial, perspektif perkembangan kognitif, dan perspektif
elaborasi kognitif.
Menurut Slavin dan Johnson dan Johnson,
strategi pembelajaran kooperatif mempunyai dua komponen utama, yaitu komponen
tugas kooperatif (cooperative task)
dan komponen struktur insetif kooperatif (cooperative
incentive structure).Sedangkan menurut Johnson dan Johnson (1994) ada lima
prinsip dasar pembelajaran kooperatif adalah ketergantungan positif,interaksi promotif
langsung atau interaksi tatap muka,akuntabilitas
individual dan kelompok, keterampilan-keterampilan
antar pribadi
dan kelompok kecil, pemrosesan
kelompok. Karakteristik strategi
pembelajaran kooperatif secara umum yaitu ada empat poin. Empat karakteristik itu
adalah pembelajaran secara tim, didasarkan pada manajemen kooperatif, kemauan untuk bekerjasama, dan keterampilan bekerjasama.
Pembelajaran kooperatif terdiri atas beberapa tipe yaitu, Co-operative
Pairs (Pasangan Kooperatif), Student Team Achievement
Division (STAD), Teams
Games Tournament (TGT), Tim Ahli (Jigsaw), dan Kelompok Investigasi (Group Investigation).
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif terdiri dari enam fase yaitu, fase 1 menyampaikan
tujuan dan motivasi, fase
2 menyajikan informasi, fase 3 mengorganisasikan siswa
ke dalam kelompok kooperatif, fase
4 membimbing kelompok
bekerja dan belajar, fase
5 evaluasi, dan fase 6 memberikan penghargaan. Kelebihan dari pembelajaran
kooperatif yaitu pembelajaran ini
dapat meningkatkan potensi
diri siswa melalui
belajar bersama-sama. Sedangkan kekurangan dari pembelajaran kooperatif
adalah memerlukan waktu
yang lama untuk menyesuaikan
diri dengan anggota
kelompok dan guru juga memerlukan waktu yang lama untuk memantau setiap
kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim,
M., Rachmadiarti, F., Nur, M., dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif.
Surabaya:
University Press
Killen, Roy. 2007. Effective
Teaching Strategy (4th Ed). Australia: Cengage.
Trianto. 2009. Mendesain
Model Pembelajaran
Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana
Prenada Media
Group.







No comments:
Post a Comment