Makalah Pembelajaran Kooperatif sebagai Strategi Mengajar



PEMBELAJARAN KOOPERATIF SEBAGAI STRATEGI PENGAJARAN DALAM ILMU KIMIA

PENDAHULUAN
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualitis telah mendominasi pendidikan di Amerika Serikat. Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan untuk berkompetisi dan tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Menurut Johnson dan Johnson (dalam Trianto.2009) dalam belajar kompetitif dan individualitis, guru menempatkan siswa pada tempat duduk yang terpisah dari siswa yang lain. Kata-kata “dilarang mencontoh”, “geser tempat dudukmu”, “Saya ingin agar kamu bekerja sendiri”, dan “jangan perhatikan orang lain, perhatikan dirimu sendiri” sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualitis. Proses belajar seperti itu masih terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini.
Menurut Slavin (dalam Trianto.2009) jika disusun dengan baik, belajar kompetitif dan individualitis akan efektif dan merupakan cara memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Meskipun demikian, terdapat beberapa kelemahan pada belajar kompetitif dan individualitis, yaitu (a) kompetisi siswa terkadang tidak sehat. Sebagai contoh jika seorang siswa menjawab pertanyaan guru, siswa yang lain berharap agar jawaban yang diberikan salah, (b) siswa berkemampuan rendah akan kurang termotivasi, (c) siswa berkemampuan rendah akan sulit untuk sukses dan semakin tertinggal, dan (d) dapat membuat frustasi siswa lainnya. Untuk menghindari hal-hal tersebut dan agar siswa dapat membantu siswa yang lain untuk mencapai sukses, maka jalan keluarnya adalah dengan belajar kooperatif.
Kurikulum pendidikan nasional tahun 2006, menetapkan prinsip pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, karakteristik, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini siswa harus mendapatkan pelayanan pendidikan memberi kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan dengan menegakkan pilar belajar hidup dalam kebersamaan dengan saling berbagi dan saling menghargai. Pembelajaran secara konstruktif dapat memberikan pengakuan terhadap pandangan dan pengalaman siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan situasi yang tidak tentu. Untuk mewujudkan prinsip pelaksanaan kurikulum tersebut di atas, pembelajaran harus dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan multistrategi, multimedia dan multiresource.
Salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif telah dikembangkan melalui riset ilmiah diberbagai negara di dunia, sehingga sistematikanya dapat diterapkan pada semua tingkat pendidikan dan di semua mata pelajaran. Strategi pembelajaran kooperatif telah dikembangkan dalam berbagai tipe variasi, di antaranya adalah Co-operative Pairs, Students Teams Achievement Division, Teams Games Turnament, Jigsaw, dan sebagainya. Tipe pembelajaran tersebut memiliki penekanan yang berbeda tetapi semuanya masih dalam konsep regulardari pembelajaran kooperatif. Misalnya, Co-operative Pairs memiliki penekanan terhadap pengembangan kemampuan siswa menguji ide dan pemahamannya sendiri dan menerima umpan balik. Sedangkan Teams Games Tournament menekankan pada tanggung jawab individu dalam berkonstribusi terhadap kesuksesan kelompok dalam suasana kompetitif dan lainnya. Pada makalah iniakan kami paparkan lebih lanjut hal-hal yang bersangkutan dengan strategi pembelajaran kooperatif.
Untuk memperdalam pengetahuan kita mengenai pembelajaran kooperatif, selanjutnya akan dibahas mengenai pengertian, komponen, prinsip, karakteristik, tipe, langkah-langkah, kelebihan dan kekurangan pembelajaran kooperatif lebih dalam lagi. Selain itu akan dibahas juga mengenai penerapan pembelajaran kooperatif dalam ilmu kimia.
Melalui penulisan makalah ini diharapkan bermanfaat dalam membantu pelajar lebih memahami strategi pembelajaran kooperatif, komponen, prinsip, karakteristik, tipe, langkah-langkah, kelebihan dan kekurangan strategi pembelajaran kooperatif serta penerapan strategi pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran kimia. Bagi pendidik, diharapkan makalah ini bermanfaat dalam menerapkan strategi pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran sehari-hari khususnya pembelajaran kimia.



PEMBAHASAN
Pengertian dari Pembelajaran Kooperatif
Untuk menggunakan pembelajaran kooperatif secara efektif, akan diperlukan kompetensi umum yang digunakan dalam kerja kelompok. Secara khusus, Anda harus mempersiapkan secara menyeluruh dan serius untuk mengajar, memahami bagaimana untuk memenuhi budaya, jenis kelamin, etnis, bahasa, dan perbedaan lainnya di antara peserta didik, dan dapat menciptakan lingkungan belajar yang mana peserta didik mengembangkan disiplin diri dan yang mana pemikiran kritis dan kreatif didorong .
Slavin dan Abrami dan Chambers menyarankan bahwa belajar melalui kerja kelompok dapat dijelaskan dari sejumlah perspektif teoritis. Perspektif teoritis tersebut terdiri dari perspektif motivasi, perspektif kohesi sosial, perspektif perkembangan kognitif, dan perspektif elaborasi kognitif.
Perspektif motivasi artinya bahwa penghargaan yang diberikan kepada kelompok memungkinkan setiap anggota kelompok akan saling membantu. Dengan demikian, keberhasilan individu pada dasarnya adalah keberhasilan kelompok. Hal semacam ini akan mendorong setiap anggota kelompok untuk memperjuangkan keberhasilan kelompoknya.
Perspektif sosial artinya bahwa melalui kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan. Bekerja secara tim dengan mengevaluasi keberhasilan sendiri oleh kelompok, merupakan iklim yang bagus, yang mana setiap anggota kelompok menginginkan semuanya memperoleh keberhasilan.
Perspektif perkembangan kognitif artinya bahwa dengan adanya interaksi antara anggota kelompok dapat mengembangkan prestasi siswa untuk berpikir mengolah berbagai informasi. Elaborasi kognitif, artinya bahwa setiap siswa akan berusaha untuk memahami dan menimba informasi menambah pengetahuan kognitifnya.
Belajar kooperatif bukanlah sesuatu yang baru. Guru dan siswa mungkin pernah menggunakannya atau mengalaminya sebagai contoh saat bekerja dalam laboratorium. Dalam belajar kooperatif, siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 orang untuk bekerja sama dalam menguasai materi yang diberikan guru (Slavin, 1995; Eggen & Kauchak). Artzt dan Newman (1990: 448) menyatakan bahwa dalam belajar kooperatif siswa belajar bersama sebagai suatu tim dalam menyelesaikan tugas-tugas kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Jadi, setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang sama untuk keberhasilan kelompoknya.
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) secara etimologi mempunyai arti belajar bersama antara dua orang atau lebih, sedangkan pembelajaran kooperatif dalam arti luas memiliki definisi  antara lain adalah belajar bersama yang melibatkan 4-5 orang, yang bekerja bersama menuju kelompok kerja yang mana tiap anggota bertanggung jawab secara individu sebagai bagian dari hasil yang tak akan bisa dicapai tanpa adanya kerjasama antar kelompok.
Dari uraian di atas dapat diperoleh kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Komponen, Prinsip dan Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin dan Johnson dan Johnson, strategi pembelajaran kooperatif mempunyai dua komponen utama, yaitu komponen tugas kooperatif (cooperative task) dan komponen struktur insentif kooperatif (cooperative incentive structure). Tugas kooperatif berkaitan dengan hal yang menyebabkan anggota bekerja sama dalam menyelesaikan tugas kelompok, sedangkan struktur insentif kooperatif merupakan sesuatu yang membangkitkan motivasi individu untuk bekerja sama mencapai tujuan kelompok. Struktur insentif dianggap sebagai keunikan dari pembelajaran kooperatif, karena melalui struktur insentif setiap anggota kelompok bekerja keras untuk belajar, mendorong dan memotivasi anggota lain menguasai materi pelajaran, sehingga mencapai tujuan kelompok.
Jadi, hal yang menarik dari strategi pembelajaran kooperatif adalah adanya harapan selain memiliki dampak pembelajaran, yaitu berupa peningkatan prestasi belajar peserta didik (student achievement) juga mempunyai dampak pengiring seperti relasi sosial, penerimaan terhadap peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akademik, penghargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan pada yang lain.
Sedangkan menurut Johnson dan Johnson (1994)  ada lima prinsip dasar pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut.
a.       Ketergantungan positif
·         Saling ketergantungan yang bersifat positif antara siswa. Dalam belajar kooperatif siswa merasa bahwa mereka sedang bekerjasama untuk mencapai satu tujuan. Seorang siswa tidak akan sukses kecuali semua anggota kelompoknya sukses. Siswa akan merasa bahwa dirinya merupakan bagian dari kelompok yang juga mempunyai andil terhadap suksesnya kelompok. Berlangsung ketika masing-masing anggota kelompok menyadari bahwa mereka tidak bisa sukses kecuali anggota kelompok lainnya berhasil.
·         Peran pendidik yaitu merancang dan mengomunikasikan tujuan-tujuan dan tugas-tugas kelompok dalam mencapai pemahaman tentang kerjasama tersebut.
·         Peran peserta didik yaitu memiliki kontribusi unik untuk melakukan usaha bersama.
b.      Interaksi promotif langsung atau interaksi tatap muka
·         Belajar kooperatif akan meningkatkan interaksi antara siswa. Hal ini, terjadi dalam hal seorang siswa akan membantu siswa lain untuk sukses sebagai anggota kelompok. Saling memberikan bantuan ini akan berlangsung secara alamiah karena kegagalan seseorang dalam kelompok mempengaruhi suksesnya kelompok sehingga harus ada interaksi yang sedang berlangsung, yang  mana interaksi tersebut adalah interaksi yang terjadi antara peserta didik dalam kelompok kecilnya.
·         Peran pendidik yaitu memberikan contoh- contoh bagaimana seharusnya suatu kelompok tersebut berfungsi.
·         Peran peserta didik yaitu mendiskusikan tugas, memutuskan bagaimana penyelesaian suatu masalah, dan bertukar ide.
c.       Akuntabilitas individual dan kelompok
·         Setiap pelajar bertanggung jawab untuk beberapa bagian yang dapat diidentifikasi dari pembelajaran. Tanggung jawab individual dalam belajar kelompok dapat berupa tanggungjawab siswa dalam hal (a) membantu siswa yang membutuhkan bantuan dan (b) siswa tidak dapat hanya sekadar “membonceng” pada hasil kerja teman sekelompoknya.
·         Peran pendidik yaitu memberikan hak individual yang lebih kuat kepada para siswa untuk bekerja sama sehingga dapat mencapai kompetensi individual yang lebih besar.
·         Peran peserta didik yaitu seluruh kelompok bertanggung jawab untuk keberhasilan setiap anggotanya dan setiap siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan pemahaman tentang penguasaan materinya.
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         
d.      Keterampilan-keterampilan antar pribadi dan kelompok kecil
·         Dalam belajar kooperatif, selain dituntut untuk mempelajari materi yang diberikan seorang siswadituntut untuk belajar bagaimana berinteraksi dengan siswa lain dalam kelompoknya. Bagaimana siswa bersikap sebagai anggota kelompok dan menyampaikan ide dalam kelompok akan menuntut keterampilan khusus.
·         Peserta didik harus menggunakan keterampilan interpersonal yang tepat
·         Fasilitator yaitu pendidik dari pembelajaran kooperatif harus fokus pada  keterampilan-keterampilan sosial yang harus diajarkan dengan tujuan yang tepat.
e.       Pemrosesan kelompok
Kelompok-kelompok perlu menyampaikan tindakan-tindakan anggota kelompok yang membantu dan tidak membantu, seberapa baik mereka dalam bekerja sama, dan membuat keputusan tentang  perilaku-perilaku yang seharusnya diteruskan dan diubah. Proses kelompok terjadi jika anggota kelompok mendiskusikan bagaimana mereka akan mencapai tujuan dengan baik dan membuat hubungan kerja yang baik.
Sedangkan karakteristik strategi pembelajaran kooperatif secara umum ada empat poin. Empat karakteristik itu adalah sebagai berikut.
a.       Pembelajaran Secara Tim
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara tim. Tim merupakan tempat untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu, tim harus mampu membuat setiap siswa belajar. Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itulah, kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim. Setiap kelompok bersifat heterogen. Artinya, kelompok terdiri atas anggota yang memiliki kemampuan akademik, jenis kelamin, dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman, saling memberikan konribusi terhadap keberhasilan kelompok.
b.      Didasarkan pada manajemen kooperatif
Sebagaimana pada umumnya, manajemen mempunyai empat fungsi pokok, yaitu fungsi perencanaan, fungsi organisasi, fungsi pelaksanaan, dan fungsi kontrol. Demikian juga dalam pembelajaran kooperatif. Fungsi perencanaan menujukkan bahwa pembelajaran kooperatif memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan secara efektif, misalnya tujuan apa yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, apa yang harus digunakan untukmencapai tujuan itu dan lain sebagainya. Fungsi pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif harus dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, melalui langkah-langkah pembelajaran yang sudah ditentukan termasuk ketentuan-ketentuan yang sudah disepakati bersama. Fungsi organisasi menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah pekerjaan bersama antar setiap anggota kelompok, oleh sebab itu perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun nontes.
c.       Kemauan untuk Bekerja Sama
Keberhasilan pembelajaran kooperatif ditentukan oleh keberhasilan secara kelompok. Oleh sebab itu, prinsip bekerja sama perlu ditekankan dalam proses pembelajaran kooperatif. Setiap anggota kelompok bukan saja harus diatur dan mengerjakan tanggung jawab masing-masing, akan tetapi juga ditanamkan perlunya saling membantu. Misalnya, yang pintar perlu membantu yang kurang pintar.
d.      Keterampilan Bekerja Sama
Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian di praktikan melalui aktivitas dan kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain. siswa perlu dibantu mengatasi berbagai hambatan dalam berinteraksi dan berkomunikasi, sehingga setiap siswa dapat menyampaikan ide, mengemukakan pendapat, dan memberikan kontribusi kepada keberhasilan kelompok.
Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif
A.    Pasangan kooperatif
Bentuk sederhana dari pembelajaran kooperatif adalah ketika siswa belajar berpasangan. Ini adalah bentuk efisien dari kelompok belajar. Hal inimerupakan cara yang baik untuk mengenalkan peserta didik kepada pembelajaran kooperatif karena memberikan mereka kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sosial ( mendengarkan, menerima pendapat dari orang lain). Ini juga membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan dalam menjelaskan, bertanya, dan menolong orang lain untuk belajar.
Salah satu cara untuk menggunakan strategi ini adalah denganmemberikan setiap pasangan materi untuk dibaca yang terbagi menjadi beberapa bagian. Mereka membaca materi satu bagian pada suatu waktu. Setelah bagian pertama, salah satu peserta didik di masing-masing pasangan menjelaskan kepada peserta didik lain apa yang mereka baca. Mereka kemudian mendiskusikannya dan datang kesepakatan tentang poin-poin penting. Mereka kemudian membaca bagian berikutnya dan peserta didik kedua pada setiap pasangan tersebut menjelaskan apa artinya. Proses ini berlanjut sampai semua materi telah dibaca, dibahas, dan dipahami. Setelah semua materi sudah dibaca dan didiskusikan peserta didik melakukan kuis satu sama lain dan mencoba untuk mengklarifikasi kesalahpahaman tentang arti keseluruhan materi. Gurukemudian memberikan seluruh kelas tes untuk memeriksa apa yang telah mereka pelajari.

B.     Student Teams Achievement Division (STAD)
Pembelajaran kooperatif tipe STAD ini merupakan salah satu tipe dari model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan kelompok-kelompok kecil dengan jumlah anggota tiap kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Diawali dengan penyampaian tujuan pembelajaran, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis, dan penghargaan kelompok.
Slavin (dalam Nur, 2000:26) menyatakan bahwa pada STAD siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotaan 4-5 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja dalam tim mereka memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Kemudian, seluruh siswa diberikan tes tentang materi tersebut, pada saat tes ini mereka tidak diperbolehkan saling membantu.
Seperti halnya pembelajaran lainnya, pembelajaran kooperatif tipe STAD ini juga membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan tersebut antara lain :
1.      Perangkat Pembelajaran
Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran ini perlu dipersiapkan perangkat pembelajarannya, yang meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS) beserta lembar jawabannya.


2.      Membentuk Kelompok Kooperatif
Menentukan anggota kelompok diusahakan agar kemampuan siswa dalam kelompok adalah heterogen dan kemampuan antar satu kelompok dengan kelompok lainnya relatif homogen. Apabila memungkinkan kelompok kooperatif perlu memerhatikan ras, agama, jenis kelamin, dan latar belakang sosial. Apabila dalam kelas terdiri atas ras dan latar belakang yang relatif sama, maka pembentukan kelompok dapat didasarkan pada prestasi akademik, yaitu :
a.       Siswa dalam kelas terlebih dahulu di ranking sesuai kepandaian dalam mata pelajaran. Tujuannya adalah untuk mengurutkan siswa sesuai kemampuannya dan digunakan untuk mengelompokkan siswa ke dalam kelompok.
b.      Menentukan tiga kelompok dalam kelas yaitu kelompok atas, kelompok menengah, dan kelompok bawah. Kelompok atas sebanyak 25% dari seluruh siswa yang diambil dari siswa ranking satu, kelompok menengah 50% dari seluruh siswa yang diambil dari urutan setelah diambil kelompok atas, dan kelompok bawah sebanyak 25% dari seluruh siswa yaitu terdiri atas siswa setelah diambil kelompok atas dan kelompok menengah.
3.      Menentukan Skor Awal
Skor awal yang dapat digunakan dalam kelas kooperatif adalah nilai ulangan sebelumnya. Skor awal ini dapat berubah setelah ada kuis. Misalnya pada pembelajaran lebih lanjut dan setelah diadakan tes, maka hasil tes masing-masing individu dapat dijadikan skor awal.
4.      Pengaturan Tempat Duduk
Pengaturan tempat duduk dalam kelas kooperatif perlu juga diatur dengan baik, hal ini dilakukan untuk menunjang keberhasilan pembelajaran kooperatif apabila tidak ada pengaturan tempat duduk dapat menimbulkan kekacauan yang menyebabkan gagalnya pembelajaran pada kelas kooperatif.
5.      Kerja Kelompok
Untuk mencegah adanya hambatan pada pembelajaran kooperatif tipe STAD, terlebih dahulu diadakan latihan kerja sama kelompok. Hal ini bertujuan untuk mengenal lebih jauh masing-masing individu dalam kelompok.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD ini didasarkan pada langkah-langkah kooperatif yang terdiri atas enam langkah atau fase. Fase-fase dalam pembelajaran ini :   
Fase-fase Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
Fase
Kegiatan Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai  pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Fase 2
Menyajikan/menyampaikan informasi
Menyajikan informasi kepada siswa dengan cara mendemonstrasikan atau lewat bahan bacaan.
Fase 3
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar
Menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5
Evaluasi
Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah diajarkan atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6
Memberikan penghargaan
Mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Penghargaan atas keberhasilan kelompok dapat dilakukan oleh guru dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.       Menghitung skor individu
Menurut Slavin (dalam Ibrahim, dkk.2000) untuk memberikan skor perkembangan individu:
Perhitungan Skor Perkembangan
Nilai tes
Skor Perkembangan
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
0 poin
10 poin di bawah sampai 1 poin di bawah skor awal
10 poin
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal
20 poin
Lebih dari 10 poin di atas skor awal
30 poin
Nilai sempurna (tanpa memerhatikan skor awal)
30 poin

b.      Menghitung skor kelompok
Skor kelompok ini dihitung dengan membuat rata-rata skor perkembangan anggota kelompok, yaitu dengan menjumlahkan semua skor perkembangan yang diperoleh anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota kelompok. Sesuai dengan rata-rata skor perkembangan kelompok, diperoleh kategori kelompok seperti:
Tingkat Penghargaan Kelompok
Rata-rata Tim
Predikat
0 ≤ x ≤ 5
-
5 ≤ x ≤ 15
Tim baik
15 ≤ x ≤ 25
Tim hebat
25 ≤ x ≤ 30
Tim super

c.       Pemberian hadiah dan pengakuan skor kelompok
Setelah masing-masing kelompok memperoleh predikat, guru memberikan hadiah/penghargaan kepada masing-masing kelompok sesuai dengan predikatnya.
Dari tinjauan tentang pembelajaran kooperatif tipe STAD ini menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan tipe pembelajaran kooperatif yang cukup sederhana. Dikatakan demikian karena kegiatan pembelajaran yang dilakukan masih dekat kaitannya dengan pembelajaran konvensional. Hal ini dapat dilihat pada fase 2 dari fase-fase pembelajaran kooperatif tipe STAD, yaitu adanya penyajian informasi atau materi pelajaran. Perbedaan model ini dengan model konvensional terletak pada adanya pemberian penghargaan pada kelompok.

C.     Teams Games Tournament (TGT)
Model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tounament (TGT), atau Pertandingan Permainan Tim dikembangkan secara asli oleh David DeViries dan Keath Edward (1995). Pada model ini siswa memainkan permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin untuk skor tim mereka.
TGT dapat digunakan dalam berbagai macam mata pelajaran, dari ilmu-ilmu eksak, ilmu-ilmu sosial maupun bahasa dari jenjang pendidikan dasar (SD, SMP) hingga perguruan tinggi. TGT sangat cocok untuk mengajar tujuan pembelajaran yang dirumuskan dengan tajam dengan satu jawaban benar. Meski demikian, TGT juga dapat diadaptasi untuk digunakan dengan tujuan yang dirumuskan dengan kurang tajam dengan menggunakan penilaian yang bersifat terbuka, misalnya esai atau kinerja (Nur & Wikandari, 2000: 27).
a.       Langkah-langkah Pembelajaran Teams Games Tournaments (TGT)
Secara runut implementasinya TGT terdiri dari 4 komponen utama, antara lain: (1) Presentasi guru (sama dengan STAD ); (2) Kelompok Belajar ( sama dengan STAD ); (3) Turnamen; dan (4) Pengenalan Kelompok.
a)      Guru menyiapkan:
·         Kartu Soal
·         Lembar Kerja Siswa
·         Alat/Bahan
b)      Siswa dibagi atas beberapa kelompok
c)      Guru mengarahkan aturan permainannya.
Adapun langkah-langkahnya : membentuk kelompok yang beranggotakan 4 orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyiapkan pelajaran, dan kemudian siswa bekerja di dalam tim mereka untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnya, seluruh siswa dikenai kuis, pada waktu kuis ini mereka tidak dapat saling membantu.

b.      Aturan (Skenario) Permainan
Dalam satu permainan terdiri dari: kelompok pembaca, kelompok penantang  I, kelompok penantang II, dan seterusnya sejumlah kelompok yang ada.
Kelompok Pembaca, bertugas: (1) Ambil kartu bernomor dan cari pertanyaan pada lembar permainan; (2) Baca pertanyaan keras-keras; dan (3) beri jawaban.
Kelompok Penantang I bertugas: Menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang berbeda. Sedangkan kelompok Penantang II: (1) Menyetujui pembaca atau memberi jawaban yang berbeda; dan (2) Cek lembar jawaban. Kegiatan ini dilakukan secara bergiliran (games ruler).
c.       Sistem Perhitungan Poin Turnamen
Skor siswa dibandingkan dengan rerata skor yang lalu mereka sendiri, dan poin diberikan berdasarkan pada seberapa jauh siswa menyamai atau melampaui prestasi yang laluinya sendiri. Poin tiap anggota tim ini dijumlahkan untuk mendapatkan skor tim, dan tim yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi sertifikat atau ganjaran (award) yang lain.

D.    Tim Ahli (Jigsaw)
a.       Gambaran Umum Jigsaw
Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aroson dan teman-teman dari Universitas Texas, dan diadopsi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins.
b.      Langkah-langkah Pembelajaran Jigsaw
·         Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5-6 orang).
·         Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
·         Setiap anggota kelompok membaca subbab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya. Misalnya, jika materi yang disampaikan mengenai teori atom. Maka seorang siswa dari satu kelompok mempelajari tentang teori atom Dalton, siswa yang lain dari kelompok satunya mempelajari tentang teori atom Rutherford, begitu pun siswa lainnya mempelajari teori atom Thomson, dan lainnya lagi mempelajari teori atom Bohr.
·         Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
·         Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
·         Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.
Persyaratan yang lain yang harus disiapkan oleh guru, antara lain: (1) Bahan Kuis; (2) Lembar Kerja Siswa (LKS); dan (3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Sistem evaluasi pada Jigsaw sama dengan sistem evaluasi pada tipe STAD, yaitu pemberian skor nilai baik secara individual maupun kelompok.
c.       Jigsaw Tipe II
Jigsaw tipe II dikembangkan oleh Slavin (Roy Killen, 1996) dengan sedikit perbedaan.Dalam belajar kooperatif tipe jigsaw, secara umum siswa dikelompokkan secara heterogen dalam kemampuan. Siswa diberi materi yang baru atau pendalaman dari materi sebelumnya untuk dipelajari. Masing-masing anggota kelompok secara acak ditugaskan untuk menjadi ahli (expert) pada suatu aspek tertentu dari materi tersebut. Setelah membaca dan mempelajari materi, “ahli” dari kelompok berbeda berkumpul untuk mendiskusikan topik yang sama dari kelompok lain sampai mereka menjadi “ahli” di konsep yang ia pelajari. Kemudian kembali ke kelompok semula untuk mengajarkan topik yang mereka kuasai kepada teman sekelompoknya. Terakhir diberikan tes atau assessment yang lain pada semua topik yang diberikan.
Model pembelajaran Jigsaw tipe II sudah dikembangkan oleh Slavin. Ada perbedaan mendasar antara pembelajaran Jigsaw I dan Jigsaw II, pada tipe I, awalnya siswa hanya belajar konsep tertentu yang akan menjadi spesialisasinya sementara konsep-konsep yang lain ia dapatkan melalui diskusi dengan teman satu grupnya. Pada tipe II ini setiap siswa memperoleh kesempatan belajar secara keseluruhan konsep (scan read) sebelum ia belajar spesialisasinya untuk menjadi expert. Hal ini untuk memperoleh gambaran menyeluruh dari konsep yang akan dibicarakan.

1)      Langkah-langkah Pembelajaran dengan Jigsaw II
a)      Orientasi
Pendidik menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan diberikan. Memberikan penekanan tentang manfaat penggunaan metode Jigsaw dalam proses belajar mengajar. Mengingatkan senantiasa percaya diri, kritis, kooperatif dalam model pembelajaran ini. Peserta didik diminta belajar konsep secara keseluruhan untuk memperoleh gambaran keseluruhan dari konsep. (Bisa juga pemahaman konsep ini menjadi tugas yang sebelumnya harus dibaca dirumah).
b)      Pengelompokan
Misalkan dalam kelas ada 20 siswa, yang sudah diketahui kemampuannya dan sudah di-ranking, bagi dalam 25% (rangking 1-5) kelompok sangat baik, 25% (rangking 6-10) kelompok baik, 25% selanjutnya (rangking 11-15) kelompok sedang, 25% (rangking 15-20) kelompok rendah.
Selanjutnya bagi menjadi 5 grup (A-E) yang isi tiap-tiap grupnya heterogen dalam kemampuannya, berilah indeks 1 untuk siswa dalam kelompok sangat baik, indeks 2 untuk kelompok baik, indeks 3 untuk kelompok sedang dan indeks 4 untuk kelompok rendah.
Misalkan (A1 berarti dari grup A dari kelompok sangat baik, ..., A4 grup A dari kelompok rendah).
Tiap grup akan berisi
Grup A (A1,A2,A3,A4)
Grup B (B1,B2,B3,B4)
Grup C (C1,C2,C3,C4)
Grup D (D1,D2,D3,D4)
Grup E (E1,E2,E3,E4)
c)      Pembentukan dan pembinaan kelompok expert
Selanjutnya grup itu dipecah menjadi kelompok yang akan mempelajari materi yang guru berikan dan dibina supaya menjdiexpert, berdasarkan indeksnya.
Setiap kelompok diharapkan bisa belajar topik yang diberikan dengan sebaik-baiknya sebelum ia kembali ke dalam grup sebagai tim ahli “expert”, tentunya pendidik cukup penting dalam fase ini.
d)     Diskusi (Pemaparan) kelompok ahli dalam grup
Expertist (peserta didik ahli) dalam konsep tertentu ini, masing-masing kembali ke grup semula. Pada fase ini kelima grup (1-5) memiliki ahli dalam konsep-konsep tertentu. Selanjutnya pendidik mempersilakan anggota grup untuk mempresentasikan keahliannya kepada grupnya masing-masing, satu persatu. Proses ini diharapkan akan terjadi sharing pengetahuan antara mereka.
Aturan dalam fase ini adalah:
-          Siswa memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap anggota tim mempelajari materi yang diberikan.
-          Memperoleh pengetahuan baru adalah tanggung jawab bersama, jadi tidak ada yang selesai belajar sampai setiap anggota menguasai konsep.
-          Tanyakan pada anggota grup sebelum tanya pada pendidik.
-          Pembicaraan dilakukan secara pelan agar tidak mengganggu grup lain.
-          Akhiri diskusi dengan “merayakannya” agar memperoleh kepuasan.
e)      Tes (Penilaian)
Pada fase ini guru memberikan tes tulis untuk dikerjakan oleh siswa yang memuat seluruh konsep yang didiskusikan. Pada tes ini siswa tidak diperkenankan untuk bekerja sama. Jika mungkin tempat duduknya agak dijauhkan.
f)       Pengakuan Kelompok
Penilaian pada pembelajaran kooperatif berdasarkan skor peningkatan individu, tidak didasarkan pada skor akhir yang diperoleh siswa, tetapi berdasarkan pada seberapa jauh skor melampaui rata-rata skor sebelumnya. Setiap siswa dapat memberikan kontribusi poin maksimum pada kelompoknya dalam sistem skor kelompok. Siswa memperoleh skor untuk kelompoknya didasarkan pada skor kuis mereka melampaui skor dasar mereka.

E.     Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Investigasi kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini pertama kali dikembangkan oleh Thelan. Dalam perkembangan model ini diperluas dan dipertajam oleh Sharan dari Universitas Tel Aviv. Berbeda dengan STAD dan Jigsaw, siswa terlihat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaimana jalannya pendidikan mereka. Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih berpusat pada guru. Pendekatan ini juga memerlukan mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik.
Dalam implementasi tipe investigasi kelompok guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok dengan anggota 5-6 siswa yang heterogen. Kelompok disini dapat dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban persahabatan atau minat yang sama dalam topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki dan melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang dipilih. Selanjutnya ia menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
Menurut Sharan (dalam Trianto.2009) membagi langkah-langkah pelaksanaan model investigasi kelompok meliputi 6 (enam) fase.
a.          Memilih topik
Siswa memilih subtopik khusus di dalam suatu daerah masalah umum yang biasanya ditetapkan oleh guru. Selanjutnya siswa diorganisasikan menjadi dua sampai enam anggota tiap kelompok menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi tugas. Komposisi kelompok hendaknya heterogen secara akademis maupun etnis.
b.        Perencanaan kooperatif
Siswa dan guru merencanakan prosedur pembelajaran, tugas dan tujuan khusus yang konsisten dengan subtopik yang telah dipilih pada tahap pertama.
c.         Implementasi
Siswa menerapkan rencana yang telah mereka kembangkan di dalam tahap kedua. Kegiatan pembelajaran hendaknya melibatkan ragam aktivitas dan keterampilan yang luas dan hendaknya mengarahkan siswa kepada jenis-jenis sumber belajar yang berbeda baik di dalam atau di luar sekolah. Guru secara ketat mengikuti kemajuan tiap kelompok dan menawarkan bantuan bila diperlukan.
d.        Analisis dan sintesis
Siswa menganalisis dan menyintesis informasi yang diperoleh pada tahap ketiga dan merencanakan bagaimana informasi tersebut diringkas dan disajikan dengan cara yang menarik sebagai bahan untuk dipresentasikan kepada seluruh kelas.
e.         Presentasi hasil final
Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil penyelidikannya dengan cara yang menarik kepada seluruh kelas, dengan tujuanagar siswa yang lain saling terlibat satusama lain dalam pekerjaan mereka dan memperoleh perspektif luas pada topik itu. Presentasikan dikoordinasi oleh guru.
f.       Evaluasi
Dalam hal kelompok-kelompok menangani aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan guru mengevaluasi tiap kontribusi kelompok terhadap kerja kelas sebagai suatu keseluruhan evaluasi yang dilakukan dapat berupa penilaian individual atau kelompok.
Perbedaan Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif
Segala bentuk pembelajaran kooperatif mengharuskan siswa untuk bekerja di atau untuk membantu satu sama lain, dari pembelajaran kooperatif yang berbeda adalah dalam hal:
1.      Penyajian informasi yang peserta didik akan pelajari
2.      Interaksi peserta didik satu dengan yang lainnya.
3.      Uji yang diberikan kepada peserta didik.
4.      Pemilihan topik yang akan dipelajari
5.      Formalitas dari interaksi antara peserta didik
Persamaan Tipe-tipe Pembelajaran Kooperatif
Dalam semua pendekatan pembelajaran kooperatif yang dibahas disini, ada penekanan pada tujuan tim, dan keberhasilan tim sebagai hasil dari semua anggota tim mencapai tujuan tersebut. Oleh karena itu perlu memahami tiga konsep penting: penghargaan tim, tanggung jawab individu, dan kesempatan yang sama untuk sukses.
Penghargaan tim diberikan jika secara bersama peserta didik dalam tim mencapai kriteria pembelajaran yang telah ditentukan. Alasan penghargaan berdasarkan upaya tim, perlunya penekanan anggota tim untuk bekerja sama dan membantu satu sama lain. Kecuali dalam kasus TGT, tim tidak dalam persaingan antara satu dengan yang lain karena mungkin bagi semua tim untuk menerima penghargaan dalam setiap minggu tertentu (atau periode lainnya). Setiap anggota tim bertanggungjawab untuk belajarnya karena keberhasilan tim tergantung pada pembelajaran individu dari semua anggota tim. Bersama-sama, tanggungjawab individu dan penghargaan tim mendorong siswa untuk saling membantu satu sama lain dalam belajar.
Dengan pengecualian TGT, kesempatan yang sama untuk sukses  setiap siswa dan setiap tim dicapai karena siswa berkontribusi untuk skor tim mereka dengan meningkatkan kinerja  mereka sebelumnya (atau dengan mencapai nilai maksimum). Dengan demikian, berprestasi tinggi, rata-rata dan rendah semua ditantang untuk melakukan yang terbaik dan mereka semua dihargai untuk upaya ini, karena semua anggota tim harus belajar untuk membantu tim mereka, dan karena prestasi yang rendah dapat membantu tim seperti prestasi yang tinggi, kontribusi dari semua anggota tim dihargai. Penghargaan bagi siswa untuk meningkatkan penampilan sebelumnya bahkan memberi penghargaan untuk penampilan mereka relatif kepada siswa lain merupakan prinsip penting dalam OBE. Hal ini juga tampaknya menjadi salah satu alasan utama mengapa siswa termotivasi oleh keterlibatan dalam pembelajaran kooperatif.

Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
Seperti halnya pembelajaran lainnya, pembelajaran kooperatif ini juga membutuhkan persiapan yang matang sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Persiapan-persiapan tersebut antara lain :
1.      Memberikan bimbingan dan praktik kepada siswa dalam membantu satu sama lain untuk belajar.
2.      Menentukan dengan jelas hasil-hasil yang ingin dicapai peserta didik.
3.      Menentukan permasalahan yang menjadi focus siswa ketika mereka mencoba mencapai hasil.
4.      Memilih tipe pembelajaran kooperatif yang sesuai.
5.      Menyiapkan bahan yang siswa perlukan untuk belajar.
6.      Menentukan dasar untuk membentuk kelompok.
7.      Menjelaskan kepada siswa bagaimana sistem pembelajaran kooperatif tersebut.
8.      Mengembangkan system untuk mengenali dan menghargai pencapaian pembelajaran siswa baik secara individual atau kelompok.
9.      Menyiapkan instrument penilaian yang sesuai.
10.  Menyimpan hasil presentasi.
11.  Merencanakan refleksi.
Persiapan lainnya itu dalam pembentukan kelompok belajar. Langkah-langkah dalam menentukan sebuah kelompok dalam pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut.
a.       Kelompok dibuat heterogen
b.      Jumlah anggota kelompok bervariasi antara 2-10 orang, tetapi sebaiknya jumlah anggota kelompok dibatasi antara 4-5 orang.
c.       Anggota kelompok yang efektif sebenarnya bergantung pada usia dan pengalaman siswa dalam bekerja secara kelompok.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif yang terdiri atas enam langkah atau fase. Fase-fase dalam pembelajaran ini adalah sebagai berikut.        
Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif
Fase
Tingkah Laku Guru
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan motivasi
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.

Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
Kelebihan strategi pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut.
·         Penggunaan pembelajaran ini dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, meningkatkan harga diri dan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain.
·         Dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam berpikir, memecahkan masalah dan mengintegerasikan pengetahuan dengan ketrampilan.
·         Pembelajaran kooperatif sangat fleksibel dan dapat digunakan dalam semua bidang subjek di semua tingkat pendidikan.
·         Pembelajaran kooperatif adalah strategi yang efektif untuk memiliki siswa mencapai berbagai hasil akademik dan sosial termasuk peningkatan prestasi, peningkatan harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan siswa lain, keterampilan manajemen waktu yang lebih baik, dan sikap positif terhadap sekolah. Banyak dari hasil ini dapat dicapai secara bersamaan, bukannya dikembangkan dalam isolasi.
·         Pembelajaran kooperatif mengajarkan siswa untuk menjadi kurang bergantung pada guru dan lebih bergantung pada kemampuan mereka sendiri untuk berpikir, untuk mencari informasi dari sumber lain, dan belajar dari siswa lain. Mereka menjadi diberdayakan untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk belajar dapat meningkatkan kepuasan peserta didik, dan jika keterampilan bekerjasama diajarkan secara eksplisit mereka dapat ditransfer ke konteks pembelajaran baru.
·         Pembelajaran kooperatif membantu siswa untuk belajar menghormati satu kekuatan dan keterbatasan oranglain dan menerima perbedaan-perbedaan ini. Hal ini sangat penting dalam ruang kelas dengan budaya yang beragam dan di kelas yang mencakup siswa penyandang cacat.
·         Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk melihat bahwa perbedaan individu dalam kemampuan, latar belakang, budaya, dan pengalaman dihargai dan dihormati, dan dapat ditampung dalam tugas-tugas belajar dan konteks. Hal ini meningkatkan motivasi dan prestasi siswa.
·         Pembelajaran kooperatif membantu siswa untuk memahami bahwa sudut pandang yang berbeda tidak perlu memecah-belah artinya mereka dapat menjadi aspek positif dari pengembangan pemahaman tentang subjek.
·         Pembelajaran kooperatif berguna dalam mempromosikan rasa tanggung jawab kepada oranglain, dan kemauan untuk merefleksikan hasil.
·         Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan rasa percaya diri siswa dan harga diri karena memungkinkan semua siswa (bukan hanya berprestasi tinggi) untuk mengalami kesuksesan belajar.
·         Pembelajaran kooperatif dapat mengubah pandangan siswa tentang belajar . Ini membantu mereka untuk bergerak dari belajar menghafal sebagai individu fakta untuk melihat itu sebagai konstruksi kolektif pemahaman .
·         Pembelajaran kooperatif mendorong siswa untuk berpikir tentang proses belajar mereka, mengidentifikasi keterbatasan pengetahuan mereka, dan belajar untuk mencari bantuan bila diperlukan.
·         Pembelajaran kooperatif menekankan pemikiran demokrasi dan praktik sebagai cara diinginkan untuk orang-orang untuk berinteraksi.
·         Pembelajaran kooperatif dapat mengubah pola interaksi verbal dari siswa, sehingga mereka memanfaatkan lebih besar dari pola lisan tertentu diyakini terkait dengan peningkatan pembelajaran seperti pernyataan dukungan dan permintaan bantuan.
·         Pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk menggunakan informasi dan keterampilan yang telah mereka pelajari dalam abstrak untuk membuat keputusan nyata.
·         Pembelajaran kooperatif dapat efektif dalam mengembangkan kreativitas siswa dan kemampuan untuk bekerja secara bersama-sama.
·         Bila dibandingkan dengan kegiatan ceramah dan diskusi, pembelajaran kooperatif dapat menyebabkan frustrasi belajar siswa berkurang, tidak sering bingung, merasa lebih menantang intelektual, dan merasa lebih aktif terlibat dalam pembelajaran.
Kekurangan strategi pembelajaran kooperatif yaitu sebagai berikut.
·         Mencoba menggunakan pembelajaran kooperatif tidak menjamin bahwa siswa akan belajar.
·         Sebuah fitur penting dari koperasi pembelajaran adalah bahwa siswa belajar dari satu sama lain. Siswa dapat belajar jauh lebih sedikit daripada mereka yang dapat instruksi langsung dari guru. Guru akan menghabiskan cukup waktu untuk membantu siswa untuk mengembangkan keterampilan yang mereka butuhkan untuk membantu satu sama lain.
·         Beberapa siswa tidak suka untuk belajar secara kooperatif, mereka lebih suka  bekerja sendiri. Sternbergmenyatakan hal ini sebagai internal siswa yang lebih memilih untuk menerapkan kecerdasan mereka untuk hal-hal atau ide-ide dalam isolasi dari orang lain. Penting untuk menyadari bahwa siswa tersebut tidak selalu memiliki kemampuan yang kurang dan mereka tidak harus mencoba untuk menjadi pengganggu melalui kurangnyakerjasama. Guru harus bersabar karena peserta didik ini mungkin cemas bekerja dalam kelompok, sabar dalam  membantumereka untuk menjadi fleksibel dalam pendekatan mereka untuk belajar.
·         Untuk menjadi sukses, pembelajaran kooperatif perlu digunakan selama jangka waktu yang cukup lama sehingga siswa mampu mengembangkan kemampuannya untuk bekerjasama. Ini bukan strategi yang dapat di gunakan hanya sekali dan langsung berhasil.
·         Menghabiskan banyak waktu untuk menghitung nilai prestasi kelompok.
·         Sangat bergantung pada insentif kelompok untuk memotivasi siswa.
·         Meskipun kerjasama merupakan kemampuan yang sangat penting bagi siswa untuk dikuasai, banyak dari kegiatan hidup didasarkan pada usaha individu karena itu siswa harus belajar untuk mandiri serta belajar bagaimana untuk bekerja sama.
·         Persepsi siswa tentang kemampuan dan status sosial dari anggota kelompok dapat mempengaruhi fungsi kelompok itu. Guru perlu menekankan bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang unik dan bahwa kontribusi setiap orang adalah penting.
·         Beberapa siswa mungkin awalnya keberatan dengan ide bahwa penilaian mereka tergantung pada pembelajaran siswa lain dalam kelompok mereka. Guru harus membuat jelas bahwa kelompok mungkin menyelesaikan tugas atau menghasilkan produk (yang akan dinilai sebagai upaya kelompok) tapi belajar adalah secara individu sehingga individu juga harus menunjukkan pencapaian hasil.
Penerapan Pembelajaran Kooperatif dalam Pembelajaran Kimia
Contoh rencana pembelajaran model STAD dalam pembelajaran kimia.
Rencana Pembelajaran Model STAD-Kimia
Mata Pelajaran            : Kimia
Kelas /Semester                       : XI/ 1
Waktu                                     : 2 x 45 menit
A.    Standar Kompetensi        :
Memahami kinetika dan kesetimbangan reaksi  kimia serta faktor-faktor yang memperngaruhinya.
B.     Kompetensi Dasar  :
Menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran arah kesetimbangan dan menyimpulkan hasilnya serta penerapannya dalam industri.
C.     Indikator :
ü     Meramalkan arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan azas Le-Chatelier.
ü   Menyimpulkan pengaruh perubahan konsentrasi, suhu, tekanan dan volume padapergeseran kesetimbangan berdasar data hasil percobaan.
ü   Menuliskan laporan hasil percobaan secara menyeluruh dan mempresentasikan.
D.    Materi Pokok :
ü   Azas Le Chatelier: Bila ke dalam suatu sistem kesetimbangan  dilakukan aksi (perubahan), maka sistem akan mengadakan reaksi sedemikian hingga pengaruh aksi tersebut sekecil mungkin.
ü   Perubahan yang dapat mempengaruhi sistem kesetimbangan adalah, perubahan konsentrasi, perubahan tekanan, dan perubahan volume.
E.     Media :
        Alat  dan Bahan Laboratorium.
Skenario Kegiatan dan Pengalaman Belajar
(Pengintegrasian lifeskills : Scientific skills/ process skills).
1)      Fase 1 :
Tujuan Pembelajaran: (5 menit)
ü Siswa dapat menyimpulkan pengaruh perubahan konsentrasi, suhu, tekanan dan volume pada pergeseran kesetimbangan berdasar data hasil percobaan.
ü Siswa dapat meramalkan arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan azas Le-Chatelier.
ü Siswa dapat menuliskan laporan hasilm percobaan secara menyeluruh dan mempresentasikan.
Motivasi : ( 5 menit)
ü Mengapa orang penduduk asli di pegunungan tidak pernah menderita hipoksia (kekurangan oksigen) sedangkan orang yang baru datang dari lembah dapat menderita hipoksia.
ü Demonstrasi reaksi :
Fe3+(aq) + SCN(aq)           FeSCN2+(aq)
(kuning) (tbw)      (merah darah)
Guru menanyakan apa hubungan antara kepekatan warna dengan konsentrasi zat.
2)      Fase 2:      Pembentukan kelompok(10 menit).
Pembentukan kelompok dengan memperhatikan penyebaran nilai rata-rata hasil ulangan harian pada kompetensi dasar sebelumnya, gender, etnis, agama dan lain-lain.
3)      Fase 3:      Bekerja dalam kelompok(30 menit).
ü Mengerjakan Worksheet eksperimen “Pergeseran Kesetimbangan”
ü Mendiskusikan hasil eksperimen.
ü Membuat laporan.
4)      Fase 4       : Scafolding
Guru melakukan bimbingan terhadap kelompok (scafolding).
5)      Fase 5       : Validasi(25 menit)
Membuat  kesimpulan (diskusi kelas)
6)      Fase 6       : Quizze(15 menit)
7)      Fase 7       : Recognition team (5 menit).
Pembelajaran Kinetika dan Kesetimbangan Reaksi Kimia dengan Model Pembelajaran STAD
ü  Hal yang dilakukan guru:
1.    Menyiapkan segala keperluan dalam pembelajaran; materi pelajaran, kelompok belajar heterogen yang berjumlah 4 orang per team, tugas kelompok, tes untuk kuis, rubrik penilaian, serta media dan fasilitas yang mendukung proses pembelajaran.
2.    Memberikan tujuan dan motivasi belajar pada siswa agar siswa menarik untuk mengikuti pelajaran
3.    Membuat rancangan waktu yang diperlukan untuk setiap proses pembelajaran
4.    Membingbing siswa untuk memahami materi yang diajarkan.
5.    Mengevaluasi hasil tes serta memberikan refleksi terhadap materi yang dipelajari.
6.    Memberikan reward pada kelompok terbaik.
ü  Hal yang dilakukan siswa:
Mengikuti penjelasan materi yang diberikan oleh guru, berdiskusi dengan kelompok, dan mengikuti tes. Pada kegiatan kelompok, siswa yang sudah memahami materi yang diajarkan diharapkan mengajarkan temannya yang belum memahami materi. Kerja tim sangat dibutuhkan dalam model pembelajaran STAD karena jika kerja tim baik maka hasil yang didapatkan akan baik pula. Hasil atau skor dalam pembelajaran STAD bergantung pada nilai masing-masing anggota tim. Pada kegiatan tes atau kuis, siswa menjawab tes secara individu dengan kata lain tidak boleh bekerjasama dengan temannya.
ü  Langkah-langkah:
1.      Penyampain tujuan dan motivasi
Tujuan Pembelajaran: (5 menit)
ü Siswa dapat menyimpulkan pengaruh perubahan konsentrasi, suhu, tekanan dan volume pada pergeseran kesetimbangan berdasar data hasil percobaan.
ü Siswa dapat meramalkan arah pergeseran kesetimbangan dengan menggunakan azas Le-Chatelier.
ü Siswa dapat menuliskan laporan hasil percobaan secara menyeluruh dan mempresentasikan.
Motivasi : ( 5 menit)
ü Mengapa orang penduduk asli di pegunungan tidak pernah menderita hipoksia (kekurangan oksigen) sedangkan orang yang baru datang dari lembah dapat menderita hipoksia.
ü Demonstrasi reaksi :
Fe3+(aq) + SCN(aq)                   FeSCN2+(aq)
(kuning) (tbw)      (merah darah)
Guru menanyakan apa hubungan antara kepekatan warna dengan konsentrasi zat.
2.      Pembagian Kelompok. (10 menit)
Pembentukan kelompok dengan memperhatikan penyebaran nilai rata-rata hasil ulangan harian pada kompetensi dasar sebelumnya, gender, etnis, agama dan lain-lain.
3.      Kegiatan belajar dalam tim (kerja tim) (30 menit).
ü  Mengerjakan Worksheet eksperimen “Pergeseran Kesetimbangan”
ü  Mendiskusikan hasil eksperimen.
ü  Membuat laporan.
4.      Scafolding
Guru melakukan bimbingan terhadap kelompok (scafolding).
5.      Validasi(25 menit)
Membuat  kesimpulan (diskusi kelas)
6.      Quizze (Evaluasi) (15 menit)
Guru mengevaluasi hasil belajar melalui pemberian kuis tentang kinetika dan kesetimbangan reaksi kimia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, serta memberikan penilaian terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok. Pada kegiatan kuis siswa bekerja secara individual.
7.      Recognition team(Penghargaan prestasi tim) (5 menit)
Perhitungan Skor Perkembangan Individu
Skor Tes
Skor perkembangan individu
a.       Nilai lebih dari 10 poin dibawah skor awal
b.      Nilai 10 hingga 1 poin dibawah skor awal
c.       Skor awal sampai 10 poin diatasnya
d.      Lebih dari 10 poin diatas skor awal
e.       Nilai sempurna (tidak berdasarkan skor awal)
0
10
20
30
30
Perhitungan skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan masing-masing perkembangan skor individu dan hasilnya dibagi sesuai jumlah anggota kelompok.
Tahap pemberian penghargaan kelompok, penghargaan kelompok bertujuan untuk memotivasi siswa agar aktif selama menyelesaikan tugas-tugas kelompok sehingga didapatkan kelompok yang kompak. Pemberian penghargaan ini diberikan berdasarkan perolehan skor rata-rata yang dikategoriakn menjadi kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super. Adapun kriteria yang digunakan untuk menentukan pemberian penghargaan terhadap kelompok adalah sebagai berikut:
Kriteria pemberian penghargaan kelompok
Skor (rata-rata kelompok)
Predikat
15-19
20-24
25-30
Kelompok baik
Kelompok hebat
Kelompok super
ü  Fasilitas
LCD, buku pelajaran kelas XI SMA, papan tulis
ü  Media
Alat dan bahan laboratorium



PENUTUP
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran efektif dengancara membentuk kelompok-kelompok kecil untuk saling bekerja sama, berinteraksi, dan bertukar pikiran dalam proses belajar. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.
Slavin dan Abrami dan Chambers menyarankan bahwa belajar melalui kerjakelompok dapat dijelaskan dari sejumlah perspektif teoritis. Perspektif teoritis tersebut terdiri dari perspektif motivasi, perspektif kohesi sosial, perspektif perkembangan kognitif, dan perspektif elaborasi kognitif.
Menurut Slavin dan Johnson dan Johnson, strategi pembelajaran kooperatif mempunyai dua komponen utama, yaitu komponen tugas kooperatif (cooperative task) dan komponen struktur insetif kooperatif (cooperative incentive structure).Sedangkan menurut Johnson dan Johnson (1994) ada lima prinsip dasar pembelajaran kooperatif adalah ketergantungan positif,interaksi promotif langsung atau interaksi tatap muka,akuntabilitas individual dan kelompok, keterampilan-keterampilan antar pribadi dan kelompok kecil, pemrosesan kelompok. Karakteristik strategi pembelajaran kooperatif secara umum yaitu ada empat poin. Empat karakteristik itu adalah pembelajaran secara tim, didasarkan pada manajemen kooperatif, kemauan untuk bekerjasama, dan keterampilan bekerjasama.
Pembelajaran kooperatif terdiri atas beberapa tipe yaitu, Co-operative Pairs (Pasangan Kooperatif), Student Team Achievement Division (STAD), Teams Games Tournament (TGT), Tim Ahli (Jigsaw), dan Kelompok Investigasi (Group Investigation).
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif terdiri dari enam fase yaitu, fase 1 menyampaikan tujuan dan motivasi, fase 2 menyajikan informasi, fase 3 mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok kooperatif, fase 4 membimbing kelompok bekerja dan belajar, fase 5 evaluasi, dan fase 6 memberikan penghargaan. Kelebihan dari pembelajaran kooperatif yaitu pembelajaran ini dapat meningkatkan potensi diri siswa melalui belajar bersama-sama. Sedangkan kekurangan dari pembelajaran kooperatif adalah memerlukan waktu yang lama untuk menyesuaikan diri dengan anggota kelompok dan guru juga memerlukan waktu yang lama untuk memantau setiap kelompok.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim, M., Rachmadiarti, F., Nur, M., dan Ismono. 2000. Pembelajaran Kooperatif.
Surabaya: University Press
Killen, Roy. 2007. Effective Teaching Strategy (4th Ed). Australia: Cengage.
Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Share:

No comments:

Post a Comment

Popular Posts

Recent Posts

Total Pengunjung

Tentang Saya

My Photo
Hi, My name's Adi Rahman, Nice to meet you..